Posts

Harmoni Bersama Bencana*

Image
Setelah gempa besar dan tsunami yang melanda Aceh tahun 2004. Tahun 2018 ini mungkin bisa kita sebut sebagai tahun bencana, bagaimana tidak? Berturut-turut bencana gempa bahkan tsunami menghampiri Indonesia. Kisah Gempa Lombok, Gempa Palu-Donggala dan yang terakhir Tsunami di selat Sunda, telah merenggut banyak nyawa. Masyarakat Indonesia saat ini sesungguhnya sudah mahfum, bahwa negaranya memang rawan bencana. Hampir seluruh wilayah Indonesia memilik i resiko bencana. Lalu kita harus bagaimana? Tidak ada pilihan lain kecuali harmoni bersama bencana. Jika bencana gempa dan tsunami memang keniscayaan, maka harmonilah. Jadikan kesiapsiagaan menghadapi bencana sebagai kebiasaan diri kita masing-masing, lalu secara perlahan menjadi budaya yang mengakar dalam masyarakat kita. Foto: Acara launching 'Komunitas Siaga Bencana Cilacap',   27 Desember  2018 Mensosialisasikan, mengedukasi diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita agar siap siaga menghadapi bencana mesti te...

Perkalian Matematika SD: Hafalan atau Logika?

Image
Hafalan Perkalian  Saya waktu SD dulu sulit sekali menghafal tabel perkalian, 1x1=1, 1x2=1, dst.. Akhirnya yang saya lakukan setiap ada pertanyaan perkalian adalah berusaha menghitung cepat. Tapi tetap saja, kalah cepat dengan siswa lain yang menghafal. Usut punya usut, ternyata pak suami juga cerita mengalami hal yang kurang lebih sama. Oleh karena itu anak-anak kami, tidak ada yg kami paksakan menghafal perkalian. Lagi pula matematika itu menghitung, dan bukan menghafal. Matematika mestinya logis! Yang meskipun logis, juga tidak boleh melanggar prinsip dasar matematika itu sendiri. Lebih baik membebaskan setiap anak untuk memiliki caranya masing-masing dalam berhitung. Mana yang menurutnya paling mudah. Kalau menurut saya, dari pada menyuruh mereka menghafal perkalian, lebih baik menyuruh mereka melipat-lipat bilangan. Misal kelipatan 3 yaitu 3, 6, 9, 12, ...Tiga, tambah tiga lagi, tambah tiga lagi...dst. Lalu kelipatan 7 yaitu 7, 14, 21, 28, ..Tujuh, ditambah tujuh...

Catatan Kecil Pasca Ujian Calistung SD

Image
Di sekolah Nadya Alya pekan lalu diumumkan hasil tes kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung (calistung). Kurikulum pendidikan saat ini mewajibkan tes ini untuk kelas 3 atau 4 sebagai alat ukur kompetensi dasar. Alhamdulillah hasil mereka berdua cukup baik. Bahkan salah satu dari mereka mendapat nilai 100 untuk kemampuan membaca, sedangkan yang lain 93. Sejujurnya saya tidak selalu membimbing pelajaran sekolah anak-anak, apalagi membantu mengerjakan PRnya. Si kembar cenderung mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Buku tematik, yang menjadi sentral pelajaran di sekolah, tidak lagi menjadi sentral di rumah. Di rumah anak-anak menghabiskan banyak waktu untuk membaca. Membaca apapun yang disukainya. Mula-mula dominasi bacaan adalah buku-buku dengan gambar yang lebih banyak dari pada tulisan, seperti komik. Namun lambat laun anak-anak mulai membaca buku-buku dengan sedikit atau bahkan tanpa gambar. Banyak orang tua mengira bahwa membaca buku-buku cer...

Tentang Ibunda: Sang Pendidik dan Daiyah Sejati

Image
Klaten, 1 September 2018 Apakah tentangku yang akan tersisa dalam ingatanmu.... Kala kesegaran embun menghilang bersama datangnya terik.. Atau saat lembayung senja membayang menggantikan benderang... Bahkan ketika tiba saatnya musim berganti dan dedaunanpun menguning berjatuhan.. Apakah tentangku yang akan tersisa dalam ingatanmu.... Maka telah aku tuliskan sejarahku..   Usia pernikahanku dengan suami memang baru 17 tahun ini. Namun aku mengenal suamiku dan ibundanya pertamakali jauh sebelum itu, tepatnya ketika aku masih duduk di kelas 5 SD. Kami memang tinggal di kota yang sama, Cilacap. Sebuah kota di pesisir selatan Pulau Jawa dekat dengan Pulau Nusakambangan. Di sebuah titik dalam koordinat ruang dan waktu kami dipertemukan, pada Lomba Cerdas Cermat Agama Islam se-Kota Cilacap. Di final, aku bertemu dengan tim SDnya suami. Sedangkan ibunya? Beliau adalah seorang guru Agama Islam di salah satu SD yang berbeda dengan SDku dan SD anaknya. ...

Refleksi 20 tahun Reformasi: Membangun Koalisi besar Indonesia (Bagian 3-Habis)

Koalisi Besar dan Pemberdayaan Masyarakat Sejarah mencatat bahwa Inggris (tahun 1688), Prancis (1789) dan Jepang (restorasi Meiji tahun 1868) berhasil memulai pembangunan institusi politik melalui revolusi. Namun pada umumnya revolusi seringkali menciptakan kehancuran dan hasil akhir yang sulit diprediksikan. Misal Revolusi Bolshevik yang semula dianggap mampu meruntuhkan sistem perkonomian eksploitatif dri rezim Tsar Rusia, ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Instutusi-institusi baru yang lahir justru lebih represif dari pemerintahan lama yang ditumbangkan para pejuang Bolshevik. Begitu pula pengalaman di Mesir, Kuba dan Vietnam.  Reformasi politik tanpa revolusi di Brasil dapat dijadikan contoh sebuah perubahan yang cukup sukses. Pemogokan pekerja pabrik truk Scania pada tahun 1978 menjadi bagian awal dari gelombang pemogokan massal yang menerjang Brasil. Bangkitnya gerakan pekerja itu sebenarnya merupakan bagian kecil dari reaksi masyarakat luas terhadap kekuasaa...

Refleksi 20 tahun Reformasi: Membangun Koalisi besar Indonesia (Bagian 2)

Sebab Utama Kegagalan Negara: Institusi, Institusi dan Institusi! Daron Acemoglu dan James Robinson, dalam sebuah buku berjudul Why Nations Fail: The Origins Of Power, Prosperity and Poverty menjelaskan bahwa kendala utama terwujudnya kemakmuran adalah  kondisi institusi politik dan ekonomi dalam sebuah negara. Kendala-kendala yang lain seperti keadaan geografis dan budaya memang mempengaruhi, tapi sekali lagi bukanlah yang utama. Bahkan juga bukan karena kebodohan para pemimpin atau politisi.  Berbagai kebijakan ekonomi yang direkomendasikan organisasi internasional seperti IMF berikut pinjamannya bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia seringkali hanya menambah beban hutang namun tidak menjadi solusi. Mubazirnya dana bantuan asing bukan melulu dipicu oleh tindak pidana korupsi, namun lebih dikarenakan kegagalan manajemen atau, yang lebih buruk lagi, dana asing itu menjadi lahan bisnis bagi organisasi-organisasi internasional yang mengelola dana tersebut. L...

Refleksi 20 tahun Reformasi: Membangun Koalisi besar Indonesia (Bagian 1)*

Image
*  Ditulis oleh: Andi Sitti Maryam (Aktivis Mahasiswa 1998, Alumni ITB) 20 tahun sudah berlalu sejak gerakan mahasiswa tahun 1998 menuntut reformasi kepemimpinan nasional dan perbaikan situasi akibat krisis ekonomi. Waktunya bernostalgia sekaligus melakukan evaluasi. Setiap bangsa di dunia ini mengalami sejarahnya masing-masing. Reformasi bahkan revolusi adalah keniscayaan dalam takdir perjalanan hidup sebuah bangsa. Namun apakah pergolakan politik itu berbuah pada perubahan politik yang fundamental? Atau hanya peralihan kekuasaan dari satu kelompok elit ke tangan kelompok elit lainnya yang tidak mengutamakan kemakmuran kecuali kemakmuran kelompok atau dirinya sendiri?  Photo: Kompas Mei 1998, saat itu saya sendiri adalah mahasiswa semester kedua di ITB. Komunitas aktivis mahasiswa di masa itu, hampir setiap hari membicarakan kondisi bangsa. Kami kerap melakukan aksi di dalam kampus, bahkan sejak tahun 1997 ketika saya baru beberapa bulan masuk ITB. Awalnya hanya seba...