Catatan Kecil Pasca Ujian Calistung SD
Di sekolah Nadya Alya pekan lalu diumumkan hasil tes kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung (calistung). Kurikulum pendidikan saat ini mewajibkan tes ini untuk kelas 3 atau 4 sebagai alat ukur kompetensi dasar. Alhamdulillah hasil mereka berdua cukup baik. Bahkan salah satu dari mereka mendapat nilai 100 untuk kemampuan membaca, sedangkan yang lain 93.
Sejujurnya saya tidak selalu membimbing pelajaran sekolah anak-anak, apalagi membantu mengerjakan PRnya. Si kembar cenderung mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Buku tematik, yang menjadi sentral pelajaran di sekolah, tidak lagi menjadi sentral di rumah. Di rumah anak-anak menghabiskan banyak waktu untuk membaca. Membaca apapun yang disukainya. Mula-mula dominasi bacaan adalah buku-buku dengan gambar yang lebih banyak dari pada tulisan, seperti komik. Namun lambat laun anak-anak mulai membaca buku-buku dengan sedikit atau bahkan tanpa gambar. Banyak orang tua mengira bahwa membaca buku-buku cerita jika terlalu banyak akan mengurangi jatah waktu belajar. Pada kenyataanya,membaca sebanyak-banyaknya buku apapun yang mereka sukai justru lebih penting daripada memaksakan mereka membaca buku-buku yang berkaitan langsung dengan pelajaran sekolah. Saya mempercayai bahwa kemampuan anak-anak dalam memahami persoalan dan kemandiriannya dalam belajar diperoleh dari pengalamannya membaca buku. Sudah terlalu banyak riset atau paper yang menuliskan hal ini.
Untuk anak-anak usia SD apalagi kelas-kelas awal, menumbuhkan rasa penasaran terhadap berbagai hal terutama isi buku justru lebih urgen dibanding skill membacanya itu sendiri. Menumbuhkan minat membaca perlu dilakukan bahkan jauh sebelum mereka mampu membaca dengan baik. Orangtua harus sering membacakan buku cerita (mendongeng), mengajak ke toko buku, menginvestasikan dana untuk membeli sejumlah besar buku yang bermutu, atau pergi ke perpustakaan secara rutin. Segala cara harus dilakukan agar anak-anak keranjingan membaca buku.
Anak-anak yang suka membaca buku sebenarnya sedang belajar menyerap informasi, memahami persoalan, mengolah kata dan berdiskusi dalam pikirannya. Itulah kompetensi yang sebenarnya diperlukan dalam mempelajari berbagai macam ilmu kelak di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tidak heran anak-anak yang banyak membaca dengan sendirinya lebih mudah memahami pelajaran-pelajaran sekolah.
Bagaimana dengan kemampuan menulis? Menulis memang perlu dilatih. Namun menulis sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh kekuatan referensi. Semakin banyak membaca, apalagi bacaan yang bermutu, akan berbanding lurus dengan kemampuan menulis. Oleh karena itu kuncinya kembali lagi ke membaca. Bacalah, bacalah, bacalah. Iqro!

Comments
Post a Comment