Harmoni Bersama Bencana*
Setelah gempa besar dan tsunami yang melanda Aceh tahun 2004. Tahun 2018 ini mungkin bisa kita sebut sebagai tahun bencana, bagaimana tidak? Berturut-turut bencana gempa bahkan tsunami menghampiri Indonesia. Kisah Gempa Lombok, Gempa Palu-Donggala dan yang terakhir Tsunami di selat Sunda, telah merenggut banyak nyawa.
Masyarakat Indonesia saat ini sesungguhnya sudah mahfum, bahwa negaranya memang rawan bencana. Hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki resiko bencana. Lalu kita harus bagaimana?
Tidak ada pilihan lain kecuali harmoni bersama bencana. Jika bencana gempa dan tsunami memang keniscayaan, maka harmonilah. Jadikan kesiapsiagaan menghadapi bencana sebagai kebiasaan diri kita masing-masing, lalu secara perlahan menjadi budaya yang mengakar dalam masyarakat kita.
![]() |
| Foto: Acara launching 'Komunitas Siaga Bencana Cilacap', 27 Desember 2018 |
Mensosialisasikan, mengedukasi diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita agar siap siaga menghadapi bencana mesti terus menerus dilakukan. Tidak cukup sekali atau dua kali. Ia harus menjadi kebiasaan yang terus diulang-ulang. Bukan karena besok akan terjadi bencana. Atau di tahun-tahun mendatang dalam masa hidup kita akan terjadi bencana. Seandainya diri kita tidak mengalaminya, lalu bagaimana dengan anak dan cucu kita, para pewaris tanah Indonesia? Mereka semua mesti menghadapi kemungkinan bencana, besar atau kecil, cepat atau lambat.
Jika kesadaran akan kesiapsiagaan menghadapi bencana belum jadi sikap mental kita hari ini, lalu kapan itu akan menjadi budaya yang akan kita wariskan?
Pemerintah memang institusi yang paling bertanggung jawab dalam hal mitigasi bencana. Belajar dari Jepang, dengan bencana yang sama dahsyatnya dengan Indonesia, ia selalu mampu mereduksi jumlah korban jauh lebih kecil dibandingkan negara yang tidak siap seperti Indonesia.
Pemerintah memang institusi yang paling bertanggung jawab dalam hal mitigasi bencana. Belajar dari Jepang, dengan bencana yang sama dahsyatnya dengan Indonesia, ia selalu mampu mereduksi jumlah korban jauh lebih kecil dibandingkan negara yang tidak siap seperti Indonesia.
Mitigasi struktural berupa bangunan fisik yang disiapkan untuk menghadapi bencana memang diperlukan, namun tidak kalah penting adalah mitigasi non fisik berupa sikap mental dan budaya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat juga punya porsi untuk menyebarkan kesadaran dan membangun budaya kesiapsiagaan tersebut. Mulai dari diri kita sendiri, keluarga, kampung dan kota kita, masyarakat dan bangsa kita. Kalau tidak kita mulai hari ini, kapan lagi?
*(Catatan jelang pergantian tahun 2018/2019)

Comments
Post a Comment