Tentang Ibunda: Sang Pendidik dan Daiyah Sejati


Klaten, 1 September 2018

Apakah tentangku yang akan tersisa dalam ingatanmu....
Kala kesegaran embun menghilang bersama datangnya terik..

Atau saat lembayung senja membayang menggantikan benderang...

Bahkan ketika tiba saatnya musim berganti dan dedaunanpun menguning berjatuhan..

Apakah tentangku yang akan tersisa dalam ingatanmu....

Maka telah aku tuliskan sejarahku.. 






Usia pernikahanku dengan suami memang baru 17 tahun ini. Namun aku mengenal suamiku dan ibundanya pertamakali jauh sebelum itu, tepatnya ketika aku masih duduk di kelas 5 SD. Kami memang tinggal di kota yang sama, Cilacap. Sebuah kota di pesisir selatan Pulau Jawa dekat dengan Pulau Nusakambangan. Di sebuah titik dalam koordinat ruang dan waktu kami dipertemukan, pada Lomba Cerdas Cermat Agama Islam se-Kota Cilacap. Di final, aku bertemu dengan tim SDnya suami. Sedangkan ibunya? Beliau adalah seorang guru Agama Islam di salah satu SD yang berbeda dengan SDku dan SD anaknya. Begitulah, 10 tahun kemudian takdir mempertemukan kami kembali dalam sebuah rencana pernikahan. Dan pertemuan saat lomba cerdas cermat itu kadang menjadi topik pembicaraan yang menggelikan. Ibu mengaku ingat betul dengan sosokku waktu SD: banyak bicara, banyak gerak dan sangat tidak bisa diam (jadi malu kan?).


Dalam perjalanan berikutnya, Karena latar belakang keluarga yang sangat berbeda, terutama dalam hal standar kebiasaan Jawa dan non Jawa, hubungan antara mertua dan menantu memang tidak selalu mulus. Namun sungguh benar firman Allah:"… dan (Allah) Dia-lah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8] : 63)

Pada akhirnya jika kita saling berhubungan satu sama lain atas nama cinta kepada Allah, maka sekat-sekat itu menghilang sedikit demi sedikit. Ibu mertua seorang pendidik dan daiyah sejati, selain mengabdi sebagai guru agama Islam di SD Negeri, selama puluhan tahun masa hidupnya beliau juga mengelola TPA untuk anak-anak dan majelis taklim untuk ibu-ibu di rumahnya. Bahkan di saat kakinya mulai bengak karena sakit lever yang dideritanya, ibu masih bersikukuh mengajar di majelisnya. "Gak apa-apa, ibu bisa pakai kaus kaki biar gak kelihatan sama ibu-ibu," ujarnya.

Diskusi di antara kami yang paling seru adalah seputar pendidikan anak dan dakwah Islam di masyarakat. Ibu sangat senang kalau anak-anaknya berkontribusi sekecil apapun terhadap dakwah dimanapun kami berada serta apapun profesi dan peran kami di masyarakat. Sebagai sarana latihan, saya yang masih minim ilmu agama ini jika sedang pulang ke Cilacap selalu diminta untuk memberi tausyiah di majelis taklimnya. 

Bagaimanapun sebagai menantu, aku adalah orang yang paling pantas untuk bersyukur dan berterimakasih. Aku sekedar memetik buah, mendapatkan suami berakhlak baik hasil jerih payah ibunda yang membesarkan dan mendidik putranya dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, meskipun kami semua mencintainya namun Allah lebih mencintainya. 
Innalillahi wa inna ilaihi raajiun, Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fuanha. Rabbighfirlii, waliwalidayya, warhamhuma kama Rabbayaani Shaghiira. Aamiin.


Comments

Popular posts from this blog

Langit Mengajarkan Keseimbangan, Begitu Juga Hidup (Wawancara Tokoh, Majalah Observatoria)

Gerhana dan Bayang-bayang Perang Dunia

Cantiknya Gerhana Bulan Total di Langit Universitas Muhammadiyah Surabaya