Posts

Tentang Ibunda: Sang Pendidik dan Daiyah Sejati

Image
Klaten, 1 September 2018 Apakah tentangku yang akan tersisa dalam ingatanmu.... Kala kesegaran embun menghilang bersama datangnya terik.. Atau saat lembayung senja membayang menggantikan benderang... Bahkan ketika tiba saatnya musim berganti dan dedaunanpun menguning berjatuhan.. Apakah tentangku yang akan tersisa dalam ingatanmu.... Maka telah aku tuliskan sejarahku..   Usia pernikahanku dengan suami memang baru 17 tahun ini. Namun aku mengenal suamiku dan ibundanya pertamakali jauh sebelum itu, tepatnya ketika aku masih duduk di kelas 5 SD. Kami memang tinggal di kota yang sama, Cilacap. Sebuah kota di pesisir selatan Pulau Jawa dekat dengan Pulau Nusakambangan. Di sebuah titik dalam koordinat ruang dan waktu kami dipertemukan, pada Lomba Cerdas Cermat Agama Islam se-Kota Cilacap. Di final, aku bertemu dengan tim SDnya suami. Sedangkan ibunya? Beliau adalah seorang guru Agama Islam di salah satu SD yang berbeda dengan SDku dan SD anaknya. ...

Refleksi 20 tahun Reformasi: Membangun Koalisi besar Indonesia (Bagian 3-Habis)

Koalisi Besar dan Pemberdayaan Masyarakat Sejarah mencatat bahwa Inggris (tahun 1688), Prancis (1789) dan Jepang (restorasi Meiji tahun 1868) berhasil memulai pembangunan institusi politik melalui revolusi. Namun pada umumnya revolusi seringkali menciptakan kehancuran dan hasil akhir yang sulit diprediksikan. Misal Revolusi Bolshevik yang semula dianggap mampu meruntuhkan sistem perkonomian eksploitatif dri rezim Tsar Rusia, ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Instutusi-institusi baru yang lahir justru lebih represif dari pemerintahan lama yang ditumbangkan para pejuang Bolshevik. Begitu pula pengalaman di Mesir, Kuba dan Vietnam.  Reformasi politik tanpa revolusi di Brasil dapat dijadikan contoh sebuah perubahan yang cukup sukses. Pemogokan pekerja pabrik truk Scania pada tahun 1978 menjadi bagian awal dari gelombang pemogokan massal yang menerjang Brasil. Bangkitnya gerakan pekerja itu sebenarnya merupakan bagian kecil dari reaksi masyarakat luas terhadap kekuasaa...

Refleksi 20 tahun Reformasi: Membangun Koalisi besar Indonesia (Bagian 2)

Sebab Utama Kegagalan Negara: Institusi, Institusi dan Institusi! Daron Acemoglu dan James Robinson, dalam sebuah buku berjudul Why Nations Fail: The Origins Of Power, Prosperity and Poverty menjelaskan bahwa kendala utama terwujudnya kemakmuran adalah  kondisi institusi politik dan ekonomi dalam sebuah negara. Kendala-kendala yang lain seperti keadaan geografis dan budaya memang mempengaruhi, tapi sekali lagi bukanlah yang utama. Bahkan juga bukan karena kebodohan para pemimpin atau politisi.  Berbagai kebijakan ekonomi yang direkomendasikan organisasi internasional seperti IMF berikut pinjamannya bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia seringkali hanya menambah beban hutang namun tidak menjadi solusi. Mubazirnya dana bantuan asing bukan melulu dipicu oleh tindak pidana korupsi, namun lebih dikarenakan kegagalan manajemen atau, yang lebih buruk lagi, dana asing itu menjadi lahan bisnis bagi organisasi-organisasi internasional yang mengelola dana tersebut. L...

Refleksi 20 tahun Reformasi: Membangun Koalisi besar Indonesia (Bagian 1)*

Image
*  Ditulis oleh: Andi Sitti Maryam (Aktivis Mahasiswa 1998, Alumni ITB) 20 tahun sudah berlalu sejak gerakan mahasiswa tahun 1998 menuntut reformasi kepemimpinan nasional dan perbaikan situasi akibat krisis ekonomi. Waktunya bernostalgia sekaligus melakukan evaluasi. Setiap bangsa di dunia ini mengalami sejarahnya masing-masing. Reformasi bahkan revolusi adalah keniscayaan dalam takdir perjalanan hidup sebuah bangsa. Namun apakah pergolakan politik itu berbuah pada perubahan politik yang fundamental? Atau hanya peralihan kekuasaan dari satu kelompok elit ke tangan kelompok elit lainnya yang tidak mengutamakan kemakmuran kecuali kemakmuran kelompok atau dirinya sendiri?  Photo: Kompas Mei 1998, saat itu saya sendiri adalah mahasiswa semester kedua di ITB. Komunitas aktivis mahasiswa di masa itu, hampir setiap hari membicarakan kondisi bangsa. Kami kerap melakukan aksi di dalam kampus, bahkan sejak tahun 1997 ketika saya baru beberapa bulan masuk ITB. Awalnya hanya seba...

GADGET DAN INTERNET (Bagian ke-3, Habis)

Image
Masih ingat tulisan saya terdahulu tentang bagaimana mengelola Gadget dan Internet bagi anak-anak kita? Seluruhnya ada empat kata kunci. Kata kunci yang pertama: Awasi ! Kata kunci yang kedua: alihkan ! Nah sekarang kita berlanjut ke kata kunci yang ketiga dan keempat yaitu: memahamkan dan menyadarkan.. Survei Komisi Perlindungan Anak (KPAI) di 12 kota menyebutkan bahwa 97% pelajar SMP-SMA pernah mengakses situs porno atau minimal melihat konten porno. Angka yang fantastis bukan? Inilah tantangan zaman anak-anak kita. Mereka mungkin tidak pernah menyengaja mengunjungi situs porno tertentu, namun konten-konten itu bisa jadi muncul tiba-tiba ketika mereka sedang bermain internet. Penyebabnya bisa macam-macam, bisa berasal dari iklan yang menjurus dan membuat penasaran atau dari pengguna PC sebelumnya jika mereka menggunakan internet di warnet. Usia belasan yang penuh gejolak dan rasa ingin tahu. Bagaimana mereka dapat bertahan? Sementara semakin besar anak-anak kita, semakin luas duni...

GADGET DAN INTERNET (Bagian ke-2)

Image
Kata kunci kedua: alihkan alihkan! Mengawasi dan membatasi saja tidak cukup. Kalau tidak nonton TV, tidak buka youtube, tidak main game, lalu apa yang bisa dikerjakan anak-anak? Mengalihkan energi besar anak ke hal positif, inilah hak anak yang harus benar-benar kita upayakan. Saya percaya tidak ada itu anak yang nakal, remaja yang nakal. Yang sebenarnya terjadi adalah anak-anak yang tidak tersalurkan energinya. Bakat dan kecenderungan setiap anak jelas berbeda-beda. Tidak semua anak-anak memiliki bakat akademis yang sama. Oleh karena itu, memperpanjang jam pulang sekolah, mengubah sekolah-sekolah negeri menjadi full day school bukan solusi jika perpanjangan waktu itu sekedar menambah jam pelajaran akademik. Anak nakal tetap nakal, bahkan bisa semakin nakal akibat kejenuhan yang mereka rasakan. Berbeda jika penambahan jam sekolah itu berisi kegiatan yang lebih variatif ( plus fasilitator yang mumpuni) setiap hari: meneliti, berdikusi, olah raga, musik, bermain drama atau berbagai k...

GADGET DAN INTERNET (Bagian ke-1)

Image
Apa yang ada di benak kita melihat berita atau video viral tentang seorang anak yang sedang menonton konten porno padahal ada ibu di sampingnya? Miris ya, dan mungkin timbul rasa marah kepada orang dewasa yang merekam peristiwa tersebut mengapa tidak lekas menegur orang tua si anak. Hal terpenting selanjutnya, apa refleksi peristiwa tersebut pada diri kita sendiri. Benarkah anak-anak kita sendiri aman 100%? Yakinkah anak-anak kita tidak pernah terkontaminasi konten porno? Saya sendiri tidak yakin. Jika kita telah memberikan gadget plus fasilitas data internet, sesungguhnya kita sudah membukakan pintu untuk mereka berkelana kemanapun mereka inginkan. Bayangkan jika seorang anak balita pergi sendirian melakukan perjalanan dari Surabaya ke Jakarta misalnya, apakah akan kita izinkan? jangankan ke luar kota, ke sekolah saja masih kita antar. Jaman sekarang lebih paranoid lagi, cuma ke warung depan saja mungkin perlu kita awasi karena maraknya kasus penculikan anak. Memberikan fasilitas ...