GADGET DAN INTERNET (Bagian ke-2)

Kata kunci kedua: alihkan alihkan!

Mengawasi dan membatasi saja tidak cukup. Kalau tidak nonton TV, tidak buka youtube, tidak main game, lalu apa yang bisa dikerjakan anak-anak? Mengalihkan energi besar anak ke hal positif, inilah hak anak yang harus benar-benar kita upayakan. Saya percaya tidak ada itu anak yang nakal, remaja yang nakal. Yang sebenarnya terjadi adalah anak-anak yang tidak tersalurkan energinya. Bakat dan kecenderungan setiap anak jelas berbeda-beda. Tidak semua anak-anak memiliki bakat akademis yang sama. Oleh karena itu, memperpanjang jam pulang sekolah, mengubah sekolah-sekolah negeri menjadi full day school bukan solusi jika perpanjangan waktu itu sekedar menambah jam pelajaran akademik. Anak nakal tetap nakal, bahkan bisa semakin nakal akibat kejenuhan yang mereka rasakan. Berbeda jika penambahan jam sekolah itu berisi kegiatan yang lebih variatif ( plus fasilitator yang mumpuni) setiap hari: meneliti, berdikusi, olah raga, musik, bermain drama atau berbagai kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Sayangnya tidak semua sekolah mampu melakukan hal ini, mungkin hanya segelintir sekolah saja yang melakukannya. Sekolah-sekolah mayoritas di negeri ini berisi puluhan anak tiap kelasnya yang kurang tertangani satu persatu pengelolaan bakatnya. Fasilitas sekolah dan sumber daya guru terbatas. Hanya beberapa anak saja yang mendapat kesempatan. Guru terpaksa memilih beberapa orang saja untuk dilatih dalam beberapa hal khusus, biasanya dalam rangka lomba demi keharuman nama sekolah. Pernahkah di masa sekolah kita mengalami hal demikian? Kita sangat ingin mencoba dan melakukan sesuatu, ingin jadi penabuh gamelan, ingin jadi dokter kecil, ingin jadi duta lingkungan hidup, ingin jadi pengurus organisasi sekolah tertentu, dan ingin-ingin yang lainnya, tapi sayang kita tidak terpilih. Saya dulu ingin jadi dirigen sambil membayangkan memimpin sebuah orkestra, tapi tidak dipilih, malah disuruh menjadii pembaca undang-undang dasar...hahaha. Banyak hal begitu penting dalam benak anak-anak kita, keinginan dan harapan-harapannya untuk mecoba melakukan sesuatu namun terkendala kesempatan.

Dalam otak manusia terdapat sebuah area bernama lobus frontal. Ia mengendalikan sebuah sistem yang disebut sebagai fungsi eksekutif. Fungsi eksekutif inilah yang membantu kita untuk mengelola waktu dan perhatian, beralih fokus, merencanakan dan mengatur, mengingat detil, menahan diri untuk mengatakan atau melakukan hal yang salah serta melakukan hal-hal berdasarkan pengalaman. Ketika fungsi eksekutif tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka perilaku menjadi kurang terkontrol. Hal itu dapat mempengaruhi kemampuan kita untuk bekerja, pergi ke sekolah, melakukan hal-hal secara mandiri dan memelihara hubungan. Manusia tidak dilahirkan dengan fungsi eksekutif yang sudah mapan. Ia berkembang dari waktu ke waktu melalui interaksi dan pengalaman seiring dengan perkembangan otak manusia. Berbagai macam jenis permainan atau aktivitas buat anak-anak dipercaya dapat mengoptimalkan fungsi ini yang mengalami perkembangan paling cepat di masa awal kanak-kanak hingga masa remaja (0-18 tahun). Sebagai referensi untuk mengetahui lebih dalan tentang apa itu fungsi eksekutif dan panduan praktis mengenai aktivitas yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kemampuan ini dapat ditelusuri di situs yang bagus ini.


Baiklah, kembali ke soal gadget :D
Di hari sekolah, Ummi harus memikirkan apa yang bisa dilakukan anak-anak sepulang sekolah, apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan fungsi eksekutifnya. Golden age nya memang sudah lewat, tapi usia 7-12 tahun sangat sayang untuk dilewatkan jika kegiatan sehari-harinya hanya didominasi dengan belajar buku tematik SD, mengerjakan PR, menonton TV atau bermain gadget. Sebenarnya beberapa game dipercaya juga ada manfaatnya, tapi kalau terlalu banyak maka mudharatnya akan lebih besar daripada manfaatnya. Alya Nadya pulang sekolah pukul 11.30, yang paling sering dilakukan adalah membaca dan bermain berdua. Sesekali memasak dan membuat sesuatu tergantung mood dan pesanan teman-temannya... :D (slime, aksesoris manik-manik, squishy, dll. ). Selain itu rutinitas sehari-hari adalah bertengkar dengan saudara kembarnya hihihi... Berisik karena bertengkar itu lebih baik dari pada hening karena asyik dengan gadget. Sore hari setelah ashar mengaji sampai menjelang maghrib. Habis sholat maghrib, makan lalu mengerjakan PR, sesekali bertengkar lagi, kali ini dengan kakak-kakaknya yang sudah besar... :D kebiasaan mereka tidur cepat, paling malam jam 8 sudah tidur. Sebagai panduan aktivitas, sebuah buku di rumah berjudul 365 afterschool activities, TV-free fun anytime for kids ages 7-12 cukup membantu dan menginspirasi serta beberapa buku sejenis, yang intinya bagaimana membuat anak-anak sibuk dan mengalihkan mereka dari ketergantungan bermain gadget. Namun sejujurnya tidak setiap hari bisa melakukan aktivitas-aktivitas keren itu. Dari 365 aktivitas, mungkin baru 35 yang diamalkan :D. Namun Ummi cukup diuntungkan dengan kembarnya dua anak kecil ini, mereka bisa asyik bermain berdua, main ibu-ibuan, guru-guruan, congklak, ludo. Ummi tidak harus menemani terus. Seperti itulah dahulu orang tua mengelola anak yang banyak, anak-anak yang berdekatan umurnya bisa bermain bersama. Sedangkan anak yang lebih besar sedikit demi sedikit diberi tanggung jawab untuk ikut mengawasi adik-adiknya.

Waktu kak Hanan dan Fadhil SD di Jerman, sekolah maksimum sampai jam 1 siang, pemerintah kota sangat memperhatikan pemanfaatan waktu luang anak-anak. Selalu ada playground yang dekat dengan rumah kita. Tempat-tempat bermain dan berpetualang terutama untuk anak-anak berusia 6-12tahun juga didirikan di banyak tempat, lengkap dengan fasilitatornya. Kami orangtua hampir tidak pernah mengantar, semua bisa dicapai dengan sedikit berjalan kaki atau naik sepeda. Di sekolah guru selalu bertanya, punya hobby apa, ikut klub apa. Anak-anak tidak dibiarkan tanpa suatu kegiatan di luar sekolah. Kebanyakan disediakan gratis. Namun meski harus membayar sekalipun, biayanya terjangkau. Saat liburan banyak event diadakan untuk menyalurkan energi dan waktu luang anak-anak. Semuanya gratis, bahkan tiket bus/ tram dalam kota juga diberikan agar tidak ada alasan untuk tidak memanfaatkan kegiatan tersebut. Okey, sekarang kita hidup di Indonesia, setiap orang harus menyelamatkan dirinya masing-masing termasuk memikirkan waktu luang anak-anak.. :D. Faktanya, meski segudang agenda kita rancang, selalu ada masa dimana kita terpaksa melanggarnya. Bisa karena sedang kurang enak badan, punya keperluan lain atau sedang dilanda rasa malas, manusiawi. Konon konsistensi bisa dicapai jika kita mampu mempersiapkan diri untuk mengatasi saat-saat terlemah kita. Buat saya, ada sebuah kebiasaaan yang sangat membantu saya dalam memanfaatkan waktu luang anak dan dengan sendirinya mampu mengalihkan kegiatan mereka dari bermain gadget yaitu kebiasaan membaca. Alya dan Nadya (bulan depan usianya 9tahun), bisa dibilang kutu buku. Mereka bisa membaca selama berjam-jam. Nggak ada TV, gadget dibatasi, asupan buku harus banyak. Kalau anak-anak sudah membaca, Ummi bisa santai baca buku juga sambil makan camilan hehehe... Inilah kiranya candu yang paling bermanfaat, yaitu candu membaca. Khusus tentang membuat anak candu membaca, kapan-kapan akan ditulis dalam tulisan tersendiri. InsyaAllah ya.. :)


Baiklah, kita berlanjut ke kata kunci ketiga dan keempat yaitu: memahamkan dan menyadarkan. 

Survei Komisi Perlindungan Anak (KPAI) di 12 kota menyebutkan bahwa 97% pelajar SMP-SMA pernah mengakses situs porno atau minimal melihat konten porno. Angka yang fantastis bukan? Inilah tantang zaman anak-anak kita. Mereka mungkin tidak pernah menyengaja mengunjungi situs porno tertentu, namun konten-konten itu bisa jadi muncul tiba-tiba ketika mereka sedang bermain internet. Penyebabnya bisa macam-macam, bisa berasal dari iklan yang menjurus dan membuat penasaran atau dari pengguna PC sebelumnya jika mereka menggunakan internet di warnet. Usia belasan yang penuh gejolak dan rasa ingin tahu. Bagaimana mereka dapat bertahan? Semakin besar anak-anak kita, semakin luas dunia yang mereka jelajahi. Orang tua memiliki keterbatasan untuk mengawasi mereka terus menerus. Pada akhirnya semua tergantung kepada anak kita sendiri. Mereka harus memiliki kemampuan memahami persoalan dengan baik, mampu membedakan yang baik dan buruk dan mampu bertahan menghadapi godaan. Memberikan pemahaman dan menanamkan kesadaran pada anak-anak, bagaimana caranya?

BERSAMBUNG

Comments

Popular posts from this blog

Meninjau Ulang KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal): Pengantar

Cantiknya Gerhana Bulan Total di Langit Universitas Muhammadiyah Surabaya

Antara Ummul Quro, Wujudul Hilal Muhammadiyah dan KHGT