GADGET DAN INTERNET (Bagian ke-1)

Apa yang ada di benak kita melihat berita atau video viral tentang seorang anak yang sedang menonton konten porno padahal ada ibu di sampingnya? Miris ya, dan mungkin timbul rasa marah kepada orang dewasa yang merekam peristiwa tersebut mengapa tidak lekas menegur orang tua si anak. Hal terpenting selanjutnya, apa refleksi peristiwa tersebut pada diri kita sendiri. Benarkah anak-anak kita sendiri aman 100%? Yakinkah anak-anak kita tidak pernah terkontaminasi konten porno? Saya sendiri tidak yakin. Jika kita telah memberikan gadget plus fasilitas data internet, sesungguhnya kita sudah membukakan pintu untuk mereka berkelana kemanapun mereka inginkan. Bayangkan jika seorang anak balita pergi sendirian melakukan perjalanan dari Surabaya ke Jakarta misalnya, apakah akan kita izinkan? jangankan ke luar kota, ke sekolah saja masih kita antar. Jaman sekarang lebih paranoid lagi, cuma ke warung depan saja mungkin perlu kita awasi karena maraknya kasus penculikan anak.

Memberikan fasilitas internet sama dengan menyediakan sarana bagi anak-anak untuk berkeliling dunia.Jadi kalau pergi sedikit jauh saja anak kita masih harus di antar apalagi berkeliling dunia? Kita harus selalu mengantarnya bukan? Buka google diantar, buka sosmed diantar, buka youtube diantar. Intinya, memberikan fasilitas gadget berikut internetnya berarti menambah waktu dan pekerjaan baru untuk kita, yaitu pengawasan penuh saat mereka menggunakan fasilitas tersebut. Kan sekarang ada cara untuk menyaring/ memblokir situ-situs yang kita anggap tidak layak untuk anak-anak? Benar, itu cukup membantu tapi tetap belum 100% aman. Ribuan situs porno diblokir setiap harinya, tapi muncul situs-situs baru setiap hari sejumlah yang diblokir itu bahkan jauh lebih banyak, yang bisa jadi tidak tersaring oleh sistem pemblokiran kita. Jaman materialistis, keuntungan ekonomi di atas segalanya. Jika permintaan pasar tinggi, maka apapun akan selalu tersedia untuk memenuhinya.

Lalu bagaimana? Sampai kapan kita harus menemani anak-anak berselancar di dunia maya? Tiba saatnya mereka harus bertemu dengan realitas zamannya. Mereka tidak bisa hidup, bekerja, beramal jika tidak mahir menggunakan berbagai macam teknologi itu. Mengutip kata-kata Chris Stephenson (Merge: Closing the Gap Between Humans and Technology, 2017):
"Cara kita mengakses teknologi terus berubah seiring berjalannya waktu. Smartphone bisa berubah ke kacamata pintar, kacamata pintar bisa berubah ke lensa pintar, lensa pintar bisa berubah ke lensa implan biologis. Dalam waktu dua dekade lagi teknologi akan mengambil berbagai bentuk yang lebih banyak dari sekarang. Bahkan, ia bisa saja hadir di dalam otak manusia. Mesin akan semakin cerdas, kecerdasan buatan akan ada di sana sini, sampai akhirnya kita mencapai titik di mana teknologi dan kemanusiaan benar-benar bergabung menjadi satu inti,"

Kita orang tua tidak mungkin terus menerus mengisolasi mereka dalam ruang tanpa teknologi. Jika mereka tidak pernah belajar pergi sendirian. Tidak pernah menemui berbagai macam bahaya dan belajar mengatasinya, bagaimana mungkin mereka mampu bertahan dan mengahadapi cobaan-cobaan itu sendirian? Benar Ayah dan Bunda, mau tidak mau, suka tidak suka, sedikit demi sedikit kita harus melepaskan anak-anak kita. Awalnya kemana-mana harus diantar, selanjutnya kita biarkan dia pergi sendirian. Mulai dari jarak yang dekat-dekat dulu, lalu ke jarak yang lebih jauh. Awalnya naik sepeda kayuh dulu, lalu selanjutnya bisa naik sepeda motor dan mobil.

Bagaimana mengelola penggunaan gadget dan internet pada anak-anak?

Semuanya terangkum dalam empat kata kunci berikut: Kata kunci pertama: Awasi! Tidak ada tawar menawar di sini. Memberikan fasilitas gadget internet berarti siap meluangkan waktu melakukan kontrol. Kontrol terhadap lamanya penggunaan dan kontrol terhadap apa yang diakses oleh anak-anak. Kalau ditanya apa yang paling banyak menyita waktu saya sebagai seorang ibu, maka jawabannya adalah mengawasi anak-anak. Sudah terlalu banyaak penelitian yang menunjukkan bahaya terlalu lama menggunakan gadget bagi anak: mulai dari kesulitan belajar (yang paling utama itu kemampuan anak untuk fokus menurun drastis), masalah perilaku (behavioral problems), sulit mengontrol emosi, sulit tidur dan obesitas. Berapa idealnya batas waktu maksimum seorang anak ada didepan layar gadget (HP/ smartphone, Ipad) termasuk TV? Sudah terlalu banyak studi tentang ini, anak dibawah 2-3 tahun menurut teori seharusnya gak boleh pegang gadget sama sekali, gak boleh nonton TV, no screen time at all! Lalu untuk anak 3-18 tahun, idealnya maksimum cuma 2 jam sehari, kalau lebih dari itu silahkan masing-masing merasakan dan mengakui, adakah dari bahaya gadget yang tersebut di atas terjadi pada anak-anak kita? Semakin belia usia pengguna gadget, maka semakin besar dampak bahayanya. Steve jobs, Chris Anderson, Evan Williams dan sederet nama orang-orang terkenal tidak memberikan ipads kepada anak-anak mereka. Beberapa negara sudah memasukkan urusan pembatasan penggunaan TV dan gadget pada anak-anak dalam undang-undang negara. Di Taiwan misalnya, negara melarang anak-anak usia di bawah dua tahun menggunakan gadget. Sedangkan anak-anak yang berusia 2-18 tahun dibatasi penggunaan gadgetnya, pelanggaran terhadap peraturan ini dikenai denda sampai 50ribu dollar Taiwan atau 16 ribu dollar Amerika.

 Anak anak saya berusia 9, 14, dan 16 tahun. Sudah lama di rumah kami tidak ada TV, tepatnya 9 tahun. TV menurut saya terlalu mengatur waktu hidup kita. Hari ini jam segini waktunya nonton ini, hari itu jam segitu waktunya nonton itu. Lalu dari mana keluarga kami mendapat informasi? Kami pasang wifi, ada fasilitas internet di rumah. Internet lebih fleksibel, kami hanya mengakses apa-apa yang kami perlukan, dan kami juga yang menentukan kapan kami akan mengaksesnya. Tapi ternyata, buat anak-anak gak ada TV saja bukan kesuksesan. Jika tidak dapat mengatur dengan baik, bahaya internet lebih besaaar. Akses internet terlalu luas, itulah yang saya sebut di awal bahwa internet adalah sarana berkeliling dunia. Kesimpulan sementara, hasil diskusi dengan suami: sebagai sarana hiburan dan edukasi berbasis media audio visual, TV kabel dengan beberapa channel yang kita seleksi sendiri adalah resiko terkecil. Jika menggunakan wifi di rumah, maka harus diatur sedemikian rupa pemakaian tiap PC, Laptop atau HP yang terhubung ke wifi dibatasi waktu pemakaiannya, wifi akan mati otomatis di waktu-waktu tertentu. Atau bisa juga dibatasi aksesnya ke situs-situs tertentu yang kita seleksi dengan menge-set wifi reuter. Misal youtube di rumah gak bisa nyala mulai jam 8 malam. Atau pernah kejadian Facebook gak bisa dibuka seharian, usut punya usut ternyata itu kerjaannya Abi biar Ummi gak buka FB terus hahaha...Untuk urusan setting-settingan Abi yang mengerjakan. Kalau kita belum bisa melakukannya, belajarlah sampai bisa :). Browsing di internet, kata kunci: parental control. Untuk penggunaa PC atau laptop bisa menggunakan microsoft account, disana ada setting parental controlnya. Bukan sekedar membatasi waktu dan akses, bahkan kita bisa mengatur agar history browsing tidak bisa dihapus sehingga kita tahu apa yang sudah dijelajah oleh anak-anak dan mereka tidak bisa menghapus jejaknya. Selain itu, dengan parental control kita bisa mendapatkan report lewat email tentang rekap penggunaan internet tiap pekannya. Buat pengguna android juga ada sistem kontrol seperti ini. Intinya semua alat bisa disetting. Atau jika belum bisa juga, cari orang atau tenaga ahli yang mampu melakukannya.

Meskipun demikian semua hal di atas tidak bisa menjamin 100% keamanan berinternet anak-anak. Tetap saja, pengawasan dan perhatian langsung adalah segala-galanya. Ummi tetap jadi satpam buat anak-anaknya. Kalau anak-anak lagi susah diatur, Ummi mengeluh juga:
“Mas, capek banget hari ini ngomel terus”. Jawab Abi: “Jangan bosen ngomel ya, besok kubelikan megafon biar gak usah pakai tenaga ngomelnya”. 😅

Untuk anak-anak yang sudah besar dan ‘terpaksa’ harus punya HP sendiri, Ummi memang tidak terus menerus membuka HP anak-anak untuk kontrol, tapi Ummi memastikan bahwa anak-anak bersikap terbuka. Akses untuk membuka HP anaknya terbuka kapanpun Ummi perlukan. Ini kata kuncinya: ‘keleluasaan akses’. Kalau kelihatan anak-anak begitu tertutup dengan gadgetnya, orangtua patut curiga. Jangan biarkan anak-anak asyik berinternet tanpa kita ketahui apa yang dilakukannya di dunia maya. Untuk anak yang sudah besar mengatur Wifi saja tidak cukup. Dia sudah punya uang saku sendiri. Wifi mati, beli paket data. Pada akhirnya orang tua harus punya otoritas terhadap anak-anaknya. Ada peraturan baru di rumah, pukul 8 malam semua HP dikumpulkan, gak boleh ada yang buka HP termasuk Ummi dan Abi. Yang dibolehkan hanya menerima telfon jika ada panggilan masuk. Karena jika darurat sekali orang akan menelfon dan tidak hanya kirim pesan di WA misalnya. Kak Hanan yang sudah SMA kadang beralasan bahwa dia perlu HP untuk mengerjakan tugas. Tugas semuanya ada di gallery dan diskusi di grup Line. Kata Abi, pindahkan dulu tugas-tugasnya ke PC dan laptop sebelum jam 8. Kalau kakak kesulitan, Ummi dan Abi akan membantu kakak. Intinya segala cara kita lakukan agar semua anggota keluarga mematuhi peraturan yang berlaku di rumah. Saya termasuk yang memberlakukan jam penggunaan gadget, maksimum 1 jam sehari atau 2 jam sehari saat hari libur. Tapiii kalau umminya lagi lengaah, lagi repoot (asal repotnya bukan repot HPan juga hihihi...), itu batas 2 jam per hari lewat juga. Pelanggaran paling sering terjadi saat hari libur dan gak ada acara kemana-mana. Akhirnya Ummi berdamai dengan keadaan dan diri sendiri. Sekali-kali melanggar manusiawi lah, yang penting adalah apa yang menjadi kebiasaan kita. Selama 1 bulan, jika statistik menunjukkan pelanggaran kurang dari 5 kali, itu masih normal. Tapi kalau sebaliknya, melanggarnya 25 kali dan benarnya 5 kali itu masalah hihihi... Terapilah diri dan keluarga kita sendiri. Lakukan secara bertahap menurut situasi dan kondisi masing-masing. Sedikit demi sedikit kurangi pelanggaran kita. Tetapkan target yang terukur agar tujuan tercapai. Percayalah, usaha kita untuk mengurangi lamanya penggunaan gadget selalu berguna. Lebih baik sulit di awal, karena semakin besar efek candunya semakin sulit kita melepaskannya. Okeey kita ke kata kunci kedua: Alihkan! Mengawasi dan membatasi saja tidak cukup. Kalau tidak nonton TV, tidak buka youtube, tidak main game, lalu apa yang bisa dikerjakan anak-anak?

BERSAMBUNG

Comments

Popular posts from this blog

Meninjau Ulang KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal): Pengantar

Cantiknya Gerhana Bulan Total di Langit Universitas Muhammadiyah Surabaya

Antara Ummul Quro, Wujudul Hilal Muhammadiyah dan KHGT