GADGET DAN INTERNET (Bagian ke-3, Habis)
Masih ingat tulisan saya terdahulu tentang bagaimana mengelola Gadget dan Internet bagi anak-anak kita? Seluruhnya ada empat kata kunci. Kata kunci yang pertama: Awasi! Kata kunci yang kedua: alihkan!
Nah sekarang kita berlanjut ke kata kunci yang ketiga dan keempat yaitu: memahamkan dan menyadarkan..
Survei Komisi Perlindungan Anak (KPAI) di 12 kota menyebutkan bahwa 97% pelajar SMP-SMA pernah mengakses situs porno atau minimal melihat konten porno. Angka yang fantastis bukan? Inilah tantangan zaman anak-anak kita. Mereka mungkin tidak pernah menyengaja mengunjungi situs porno tertentu, namun konten-konten itu bisa jadi muncul tiba-tiba ketika mereka sedang bermain internet. Penyebabnya bisa macam-macam, bisa berasal dari iklan yang menjurus dan membuat penasaran atau dari pengguna PC sebelumnya jika mereka menggunakan internet di warnet. Usia belasan yang penuh gejolak dan rasa ingin tahu. Bagaimana mereka dapat bertahan? Sementara semakin besar anak-anak kita, semakin luas dunia yang mereka jelajahi. Orang tua memiliki keterbatasan untuk mengawasi mereka terus menerus. Pada akhirnya semua tergantung kepada anak kita sendiri. Mereka harus memiliki kemampuan memahami persoalan dengan baik, mampu membedakan yang baik dan buruk dan mampu bertahan menghadapi godaan. Memberikan pemahaman dan menanamkan kesadaran pada anak-anak, bagaimana caranya?
Ayah dan bunda…
Tulisan ini tidak hendak mengajari ayah bunda sekalian tentang nilai-nilai apa yang harus ditanamkan pada anak-anak. Ribuan tulisan sudah menulis hal semacam itu, bahkan lebih bagus dan detil lagi. Dan kita orang tua sudah mempraktekannya setiap hari melalui ceramah dan omelan kita kepada anak-anak. Tulisan singkat saya kali ini hanya sekedar mengajak kita, saya dan anda, untuk mengevaluasi kembali tentang syarat utama yang harus dipenuhi oleh orang tua atau guru sebelum menanamkan nilai kepada anak-anak didiknya, yaitu membangun hubungan dan komunikasi. Sebelum anak-anak mau mendengarkan kata-kata kita. Sebelum kita mampu mengarahkan mereka dengan kebenaran dan ajaran agama yang kita yakini. Sesunguhnya jika hubungan dan komunikasi kita baik dengan anak-anak, maka selanjutnya akan lebih mudah bagi kita untuk menanamkan nilai.
Kita terkadang bingung sampai frustasi. Setiap hari kita memberitahukan mereka tentang nilai-nilai kebaikan. Kerap mengingatkan anak-anak. Tapi apa yang terjadi? semakin besar mereka justru semakin berani untuk tidak menaati kita. Jika itu yang terjadi, mari kita evaluasi bagaimana hubungan kita dengan anak-anak. Apakah selama ini kita dan anak-anak memiliki hubungan dan komunikasi yang baik bahkan mesra? Sudahkan kita menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak? Sudahkan kita menjadi sahabatnya? Apakah kita adalah orang yang paling mereka percayai? Sudahkah kita menjadi orang yang paling tahu tentang kesedihan-kesedihannya, tentang harapan-harapannya? Atau apakah sebaliknya selama ini hubungan kita kering tanpa makna? Kita sibuk setiap hari memperhatikan kesehatannya, menyediakan makanan bergizi untuk kebutuhan jasmaninya. Mengantar dan menjemput mereka sekolah. Tapi kita tidak pernah tahu kondisi kejiwaannya, tidak memahami kerapuhan di dalamnya. Kita kadang sangat pandai membina hubungan dengan teman-teman bahkan teman-teman masa sekolah dahulu. Reuni rutin, ketemuan di cafe, ngobrol. Tapi sayang kita tidak pandai membina hubungan dengan anak-anak kita sendiri, dengan keluarga kita sendiri. Kesibukan kita bisa bermacam-macam. Sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, sibuk dengan karier kita di luar rumah, atau mungkin sibuk berdakwah. ditambah semakin besar anak-anak kita juga semakin banyak jamnya di luar rumah. Sekolah seharian, ekstra kurikuler, les, kerja kelompok. Tapi tidak satupun di antara kesibukan-kesibukan itu yang bisa menjadi pembenaran bahwa kita tidak punya waktu lagi untuk tidak mendengar keluh kesahnya, tidak punya waktu lagi untuk mengobrol dan berjalan-jalan berdua saja. Paper-paper tentang perkembangan anak yang bicara tentang ketahanan jiwa menyebutkan bahwa faktor utama yang mampu membuat seorang anak bertahan dari hal-hal negatif yang mereka hadapi adalah hubungan yang stabil dan penuh komitmen dengan minimal satu orang dewasa, yaitu orang tua yang suportif, pengasuh, guru atau orang dewasa lainnya.
Ayah dan bunda...
Apa yang saya tuliskan di atas sifatnya adalah pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit ringan. Namun jika sudah terlanjur berat, secara khusus jika terkait candu konten pornografi, sesungguhnya kita tidak mampu menanganinya sendiri. Anak-anak yang sudah mengalami adiksi pornografi harus ditangani secara khusus melalui terapi berkala oleh yang berkompetensi dalam hal tersebut. Apa ciri-ciri anak yang mengalami adiksi pornografi? Menurut Elly Risman, jika anak-anak kehilangan kemampuan mengontrol dirinya, misal tidak mampu mengontrol emosinya, sering berkata dan melakukan hal kasar kepada orang tuanya, mulai mencuri, prestasi belajar menurun, menggunakan gadget dan internet dalam jangka waktu tidak terbatas serta tidak ingin diketahui sama sekali tentang apa yg dijelajahinya, maka orang tua patut curiga. Segera bawa ke psikiater atau orang yang berpengalaman dalam melakukan terapi terhadap kecanduan pornografi sebelum penyakit yang diderita menjadi semakin berat dan sulit ditangani.
Pada akhirnya, kesadaran adalah anugerah Tuhan. Sebagaimana hidayah, kesadaran adalah hak prerogatif Allah. Terkadang kita sangat menginginkan hidayah atau kesadaran pada diri seseorang, namun Allah berkehendak lain. Bagaimanapun Allah lah yang lebih tahu tentang keadaan hamba-hambanya. Allah lebih tahu siapa diantara hambanya yang paling menghendaki hidayahNya.
Nah sekarang kita berlanjut ke kata kunci yang ketiga dan keempat yaitu: memahamkan dan menyadarkan..
Survei Komisi Perlindungan Anak (KPAI) di 12 kota menyebutkan bahwa 97% pelajar SMP-SMA pernah mengakses situs porno atau minimal melihat konten porno. Angka yang fantastis bukan? Inilah tantangan zaman anak-anak kita. Mereka mungkin tidak pernah menyengaja mengunjungi situs porno tertentu, namun konten-konten itu bisa jadi muncul tiba-tiba ketika mereka sedang bermain internet. Penyebabnya bisa macam-macam, bisa berasal dari iklan yang menjurus dan membuat penasaran atau dari pengguna PC sebelumnya jika mereka menggunakan internet di warnet. Usia belasan yang penuh gejolak dan rasa ingin tahu. Bagaimana mereka dapat bertahan? Sementara semakin besar anak-anak kita, semakin luas dunia yang mereka jelajahi. Orang tua memiliki keterbatasan untuk mengawasi mereka terus menerus. Pada akhirnya semua tergantung kepada anak kita sendiri. Mereka harus memiliki kemampuan memahami persoalan dengan baik, mampu membedakan yang baik dan buruk dan mampu bertahan menghadapi godaan. Memberikan pemahaman dan menanamkan kesadaran pada anak-anak, bagaimana caranya?
Ayah dan bunda…
Tulisan ini tidak hendak mengajari ayah bunda sekalian tentang nilai-nilai apa yang harus ditanamkan pada anak-anak. Ribuan tulisan sudah menulis hal semacam itu, bahkan lebih bagus dan detil lagi. Dan kita orang tua sudah mempraktekannya setiap hari melalui ceramah dan omelan kita kepada anak-anak. Tulisan singkat saya kali ini hanya sekedar mengajak kita, saya dan anda, untuk mengevaluasi kembali tentang syarat utama yang harus dipenuhi oleh orang tua atau guru sebelum menanamkan nilai kepada anak-anak didiknya, yaitu membangun hubungan dan komunikasi. Sebelum anak-anak mau mendengarkan kata-kata kita. Sebelum kita mampu mengarahkan mereka dengan kebenaran dan ajaran agama yang kita yakini. Sesunguhnya jika hubungan dan komunikasi kita baik dengan anak-anak, maka selanjutnya akan lebih mudah bagi kita untuk menanamkan nilai.
Kita terkadang bingung sampai frustasi. Setiap hari kita memberitahukan mereka tentang nilai-nilai kebaikan. Kerap mengingatkan anak-anak. Tapi apa yang terjadi? semakin besar mereka justru semakin berani untuk tidak menaati kita. Jika itu yang terjadi, mari kita evaluasi bagaimana hubungan kita dengan anak-anak. Apakah selama ini kita dan anak-anak memiliki hubungan dan komunikasi yang baik bahkan mesra? Sudahkan kita menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak? Sudahkan kita menjadi sahabatnya? Apakah kita adalah orang yang paling mereka percayai? Sudahkah kita menjadi orang yang paling tahu tentang kesedihan-kesedihannya, tentang harapan-harapannya? Atau apakah sebaliknya selama ini hubungan kita kering tanpa makna? Kita sibuk setiap hari memperhatikan kesehatannya, menyediakan makanan bergizi untuk kebutuhan jasmaninya. Mengantar dan menjemput mereka sekolah. Tapi kita tidak pernah tahu kondisi kejiwaannya, tidak memahami kerapuhan di dalamnya. Kita kadang sangat pandai membina hubungan dengan teman-teman bahkan teman-teman masa sekolah dahulu. Reuni rutin, ketemuan di cafe, ngobrol. Tapi sayang kita tidak pandai membina hubungan dengan anak-anak kita sendiri, dengan keluarga kita sendiri. Kesibukan kita bisa bermacam-macam. Sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, sibuk dengan karier kita di luar rumah, atau mungkin sibuk berdakwah. ditambah semakin besar anak-anak kita juga semakin banyak jamnya di luar rumah. Sekolah seharian, ekstra kurikuler, les, kerja kelompok. Tapi tidak satupun di antara kesibukan-kesibukan itu yang bisa menjadi pembenaran bahwa kita tidak punya waktu lagi untuk tidak mendengar keluh kesahnya, tidak punya waktu lagi untuk mengobrol dan berjalan-jalan berdua saja. Paper-paper tentang perkembangan anak yang bicara tentang ketahanan jiwa menyebutkan bahwa faktor utama yang mampu membuat seorang anak bertahan dari hal-hal negatif yang mereka hadapi adalah hubungan yang stabil dan penuh komitmen dengan minimal satu orang dewasa, yaitu orang tua yang suportif, pengasuh, guru atau orang dewasa lainnya.
Ayah dan bunda...
Apa yang saya tuliskan di atas sifatnya adalah pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit ringan. Namun jika sudah terlanjur berat, secara khusus jika terkait candu konten pornografi, sesungguhnya kita tidak mampu menanganinya sendiri. Anak-anak yang sudah mengalami adiksi pornografi harus ditangani secara khusus melalui terapi berkala oleh yang berkompetensi dalam hal tersebut. Apa ciri-ciri anak yang mengalami adiksi pornografi? Menurut Elly Risman, jika anak-anak kehilangan kemampuan mengontrol dirinya, misal tidak mampu mengontrol emosinya, sering berkata dan melakukan hal kasar kepada orang tuanya, mulai mencuri, prestasi belajar menurun, menggunakan gadget dan internet dalam jangka waktu tidak terbatas serta tidak ingin diketahui sama sekali tentang apa yg dijelajahinya, maka orang tua patut curiga. Segera bawa ke psikiater atau orang yang berpengalaman dalam melakukan terapi terhadap kecanduan pornografi sebelum penyakit yang diderita menjadi semakin berat dan sulit ditangani.
Pada akhirnya, kesadaran adalah anugerah Tuhan. Sebagaimana hidayah, kesadaran adalah hak prerogatif Allah. Terkadang kita sangat menginginkan hidayah atau kesadaran pada diri seseorang, namun Allah berkehendak lain. Bagaimanapun Allah lah yang lebih tahu tentang keadaan hamba-hambanya. Allah lebih tahu siapa diantara hambanya yang paling menghendaki hidayahNya.
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]Oleh karena itu sebagai orang tua, rajin-rajinlah berdoa di setiap kesempatan. Sehebat apapun kita, dan sekeras apapun usaha kita dalam mendidik anak-anak. Alllah adalah sang maha pemberi hidayah. Semoga Allah berkenan memberi hidayahNya bagi anak-anak kita dan bagi semua anak-anak seantero negeri Indonesia yang kita cintai ini.

Comments
Post a Comment