Antara Ummul Quro, Wujudul Hilal Muhammadiyah dan KHGT
Arab Saudi dan Pengaruhnya dalam Penerapan Kalender Hijriyah
Arab Saudi sebagai negara tujuan ibadah haji dan tempat
berdirinya Kabah yang menjadi kiblat kaum muslimin di seluruh dunia, Arab Saudi
masih menjadi faktor sentral dalam penetapan awal bulan Hijriyah (lihat artikel Meninjau Ulang KHGT: Pengantar). Arab Saudi memiliki kalender Hijriyah yang disebut Ummul Quro, kalender ini
berbasis pada hisab Wujudul Hilal (persis seperti Wujudl Hilal Muhammadiyah, hanya
versi Makkah), dimana Kota Makkah dijadikan acuan. Kalender ini digunakan dalam
keperluan sehari-hari Arab Saudi.
Namun khusus Bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah, Arab Saudi tetap menggunakan metode rukyat syari, dimana kesaksian seseorang yang melihat hilal dibawah sumpah dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan. Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, hasil rukyat yang digunakan sebagai dasar penetapan awal bulan Hijriyah oleh pemerintah Arab Saudi semakin konsisten dengan kalender Ummul Qura. Oleh karena itu, kita dapat memprediksi kapan Arab Saudi akan menetapkan awal bulan berdasarkan kalender Ummul Quro. Tabel berikut ini menampilkan realisasi pengumuman penetapan awal bulan di Arab Saudi jika dibandingkan dengan hisab Ummul Quro, khusus bulan Ramadhan Syawwal dan Dzulhijjah. Tanggal yang berwarna biru berarti bahwa Arab Saudi mengawali bulan lebih lambat dibandingkan dengan perhitungan hisab Ummul Quro, sedangkan tanggal yang berwarna merah menunjukkan bahwa awal bulan ditetapkan lebih cepat daripada hasil hisab Ummul Quro
Antara
Ummul Quro, Wujudul Hilal Muhammadiyah dan KHGT
Aturan Astronomi untuk Ummul Quro dan Wujudul Hilal Muhammadiyah pada dasarnya sama, yaitu jika pada hari ke-29 di suatu bulan Hijriyyah terdapat dua kondisi berikut terpenuhi maka hari berikutnya adalah tanggal 1 bulan Hijriyyah:
1. Konjungsi geosentrik terjadi sebelum Matahari terbenam,
2. Bulan terbenam setelah Matahari terbenam.
Karena
letak Indonesia lebih timur dari Arab Saudi, maka di hari yang sama Arab Saudi
akan mendapati Bulan lebih tinggi saat Matahari terbenam dibandingkan
Indonesia. Hal ini dapat meyebabkan awal bulan dari hisab Wujudul Hilal
Indonesia tertinggal satu hari dari Arab Saudi, atau dapat pula bersamaan.
Bagaimana
jika dibandingkan dengan KHGT?
KHGT
mensyaratkan jika pada hari konjungsi geosentrik Bulan memiliki ketinggian
lebih dari 50 dan elongasi 80 di suatu wilayah di Bumi, maka
hari berikutnya mulai pukul 00 adalah awal bulan Hijriyyah, serta konjungsi terjadi sebelum terbit fajar di Selandia Baru. Lokasi tempat
dimana terpenuhinya parameter 50 dan 80 tersebut dapat berubah-ubah
setiap bulan, namun berada pada wilayah yang relatif lebih barat dari Arab
Saudi. Akibatnya awal bulan KHGT dalam beberapa kasus dapat lebih cepat dari
Arab Saudi, meskipun yang lebih sering adalah bersamaan. Kapan KHGT dapat lebih
cepat dari Arab Saudi? Potensi ini dapat terjadi di bulan Hijriyyah manapun, termasuk
Muharram, Ramadhan, Syawwal dan tentu saja Dzulhijjah. Misalnya pada bulan
Ramadhan 1444H, dimana menurut KHGT 1 Ramadhan bertepatan dengan 22 Maret 2023,
sedangkan menurut Ummul Quro 1 Ramadhan jatuh pada 23 Maret 2023. Contoh lain
misalnya terjadi di bulan Rabiul Awal 1448H, dimana menurut KHGT 1 Rabiul Awal
bertepatan dengan 13 Agustus 2026, sedangkan menurut Ummul Quro 1 Rabiul Awal
bertepatan dengan 14 Agustus 2026. Kondisi semacam ini tidak akan terjadi jika
masih menggunakan Wujudul Hilal versi lokal yang sebelumnya dianut
Muhammadiyah.
Jika salah
satu tujuan diberlakukannya KHGT adalah untuk menyatukan waktu ibadah kaum
muslimin di seluruh dunia termasuk puasa Arafah, maka selama Arab Saudi belum
mengadopsi KHGT, maka tujuan tersebut belum dapat tercapai sepenuhnya. Dalam skenario ekstrim, jika
Muhammadiyah menerapkan KHGT sementara negara-negara yang lebih barat, termasuk
Arab Saudi, belum menerapkannya, maka warga Muhammadiyah akan mungkin berhari
raya Idul Adha saat jamaah haji sedang wukuf di Arafah. Situasi tersebut misalnya
dapat terjadi pada bulan Dzulhijjah 1467H, dimana menurut KHGT 1 Dzulhijjah
bertepatan dengan tanggal 11 Oktober 2045, sedangkan menurut Ummul Quro 1
Dzulhijjah bertepatan dengan tanggal 12 Oktober 2045.
Seperti Wujudul Hilal Muhammadiyah, KHGT sebenarnya akan seringkali bersamaan dengan Ummul Quro Arab Saudi. Namun ada perbedaan mendasar: Wujudul Hilal Muhammadiyah tidak dapat mendahului Ummul Quro Arab Saudi, sementara KHGT bisa bersamaan dengan Ummul Quro, namun tidak akan bisa lebih lambat dan justru bisa lebih cepat dari Ummul Quro Arab Saudi. Kemungkinan KHGT mendahului Keputusan Arab Saudi mengenai penetapan awal bulan Ramadhan Syawwal dan khususnya Dzulhijjah dapat semakin besar jika tidak mendasarkan pada asumsi bahwa keputusan awal bulan Arab Saudi akan bersesuaian dengan Ummul Quro. Jangan lupa bahwa Saudi menerapkan murni rukyat hilal pada bulan-bulan khusus yaitu Ramadhan Syawwal dan Dzulhijjah, sehingga masih terbuka kemungkinan bahwa Arab Saudi akan menetapkan awal bulan lebih cepat atau lebih lambat dari Ummul Quro. Artinya pada suatu awal bulan Hijriyyah (baik Ramadhan Syawwal maupun Dzulhijjah), meskipun secara hisab Ummul Quro bersamaan dengan KHGT namun jika saat itu tidak ada laporan terlihatnya hilal dari pengamat yang telah disumpah, maka pemerintah Arab Saudi akan mengumumkan dan menetapkan awal bulan lebih lambat daripada Ummul Quro dan menambah peluang terjadinya hisab KHGT lebih cepat 1 hari daripada hasil ketetapan Arab Saudi. Kasus seperti ini dapat terjadi misalnya pada 1 Dzulhijjah 1436H dan 1437H. Tabel berikut ini menampilkan perbandingan antara hisab Ummul Quro dengan pengumuman Arab Saudi dan KHGT pada bulan Dzhulhijjah.
|
Tahun Hijriyyah |
1 Dzulhijjah |
KHGT |
|
|
Hisab
Ummul Quro |
Diumumkan |
||
|
1436H |
14
September 2015 |
15
September 2015 |
14
September 2015 |
|
1437H |
2
September 2016 |
3
September 2016 |
2
September 2016 |

Comments
Post a Comment