Memahami Sunnatullah Perubahan dari Sejarah Masuknya Islam di Jawa (Bagian 1)
Sir
Thomas Stamford Raffles, seorang Gubernur Jendral di masa kolonial Inggris di
Indonesia, dalam sebuah buku yang ditulisnya berjudul The History of Java. Salah satu bagian tulisannya memuat cerita
tentang situasi masyarakat Jawa saat kedatangan Islam. Tulisan Raffles ini
menjadi menarik karena: pertama, ia adalah orang yang menyaksikan dan mengalami
secara langsung sebagian fase sejarah Indonesia di masa lampau. Kedua, dalam
konteks penulisan sejarah Islam, ia justru adalah seorang non muslim yang
melihat dari luar sistem serta memberikan pendapat menurut apa yang dilihatnya dan
fakta yang dikumpulkannya.
Islam
telah muncul pertama kali di tanah Jawa sejak tahun 1250 M. Namun usaha-usaha
memperkenalkan Islam diperkirakan pertama kali dilakukan di Gresik di akhir
abad ke 13 tahun Jawa atau di awal abad ke-14 Masehi, bersamaan dengan
datangnya Mulana Ibrahim, yang
menurut penulis asli (Jawa) adalah seorang pandita yang ternama dari tanah
Arabia, keturunan Jenal Abidin dan sepupu Raja Chermen (sebuah negeri di Sabrang). Beliau menetap di Desa Leran di
Janggala, dengan disertai para pengikut
Islam lainnya. Pada masa itu, seluruh Jawa hingga ke barat mencapai daerah yang
di sebut kerajaan Sunda, termasuk pulau-pulau yang terletak di Selat Sunda dan
sebagian Sumatera, lalu ke arah timur hingga mencapai Blambangan dan Bali,
berada di bawah kekuasaan Majapahit.
Tidak
lama setelah kedatangan Mulana Ibrahim dan pengikutnya, kemudian datanglah sepupunya,
Raja Chermen yang beragama Islam beserta putra putri dan seluruh
saudara-saudaranya dan pengikutnya dari berbagai golongan. Kedatangan ini
dimaksudkan untuk berdakwah di tanah Jawa yang luas dan padat itu. Berusaha
mengubah kepercayaan yang dianut Raja Majapahit, Prabu Angka Wijaya, agar
mengakui adanya Tuhan yang Esa (Allah). Ia bahkan telah menyiapkan putrinya
untuk dinikahi Angka Wijaya seandainya Raja Majapahit itu mau menerima Islam. Sesampainya
di Desa Laren, Raja Chermen membangun sebuah masjid dan dalam waktu singkat
berhasil memperoleh banyak pengikut.
Rombongan
tersebut kemudian melanjutkan perjalanannya ke Majapahit untuk menyampaikan
maksud kedatangannya. Raja Majapahit menerimanya dengan sangat baik dan menjamu
tamu-tamunya. Raja Chermen memberi sebuah hadiah berupa buah delima yang
diletakkan dalam sebuah keranjang untuk memastikan apakah Angka Wijaya akan
menerima ajakannya kepada Islam atau tidak. Ia sangat hati-hati dalam bertindak
dan berdakwah. Setelah perkenalan itu, Raja Chermen berpamitan kembali ke
Laren. Setelah empat malam di Laren, tiba-tiba beberapa pengikutnya jatuh
sakit, dan tidak sedikit yang meninggal, termasuk diantaranya 3 dari 5 sepupu
raja. Mereka semua dimakamkan di sebuah tempat yang disebut kubur panjang. Putri rajapun mengalami
hal yang sama. Hingga ketika sakitnya semakin parah, ia meminta kepada ayahnya
untuk berdoa kepada Allah agar dirinya sehat kembali seperti semula sehingga
niat ayahnya semula untuk menikahkan dirinya dengan Prabu Angka Wijawa dapat
terlaksana. Namun Raja Chermen justru berdoa bahwa jika Angka Wijaya telah
digariskan tidak mau menerima Islam, maka hari-hari sang putri akan semakin
pendek. Tak lama kemudian, sang putripun meninggal dan dimakamkan di dekat
makam saudara-saudaranya. Raja Chermen kemudian pergi kembali ke negaranya
bersama saudara dan pengikutnya yang masih tersisa. Sedangkan Maulana Ibrahim
tetap tinggal di sana.
Sementara
Prabu Angka Wijaya ketika ditinggal oleh para tamunya, ia segera membuka buah
Delima pemberian Raja Chermen. Ternyata isi buah itu bukanlah biji-bijian
sebagaimana lazimnya buah-buahan, tetapi berisi penuh dengan batu-batu berharga
(ruby). Melihat itu Sang Prabu
menyangka bahwa Raja Chermen pastilah seseorang yang sangat baik dan
berkeinginan untuk menyusul rombongan yang telah pergi itu. Sesampainya di Desa
Leran, ternyata Raja Chermen telah pergi. Setelah mendengar berita kematian
putri Raja, maka terlontarlah pendapatnya mengenai kejadian ini:
“Aku tadinya mengira bahwa pemikiran
sebagaimana yang dipeluk oleh Raja Chermen ini mampu mencegah terjadinya sebuah
bencana, seperti halnya kematian putri raja yang terlalu cepat itu dan mampu
membuatnya melawan penyakitnya sehingga dapat bertahan di Pulau Jawa. Tapi
ternyata aku keliru, pemikiran sebagaimana Raja Chermen itu tidak dapat
diharapkan”.
Mendengar perkataan Prabu Angka Jaya itu, Mulana Ibrahim menimpali:
“ Cara berpikir
seperti itu adalah kesalahan akibat dari pemujaan dewa-dewa, dan bukan pada
Tuhan yang sebenarnya”.
Mendengar itu Angka Wijaya sangat marah, namun ia dapat ditenangkan oleh pengikutnya dan kembali lagi ke Majapahit tanpa memperpanjang perkara. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1313 tahun Jawa atau 1386 M.
Mulana Ibrahim tetap tinggal di Leran dan kemudian pindah ke Gresik serta meninggal di sana. 21 tahun setelah kepulangan Raja Chermen, yaitu pada tahun 1334 tahun Jawa atau 1407 M, selama hidupnya Mulana Ibrahim terus menyebarkan agama Islam dan memiliki banyak pengikut yang setia yang ikut membantu menyebarkan Agama Islam ke seluruh Jawa. Hingga pendukungnya kemudian semakin banyak, kekuatannya semakin kokoh, maka Islam mulai disebarkan melalui jalan pengambilalihan kekuasaan. Pada tahun 1402 tahun Jawa atau 1475 M. Kerajaan Majapahit runtuh bersamaan dengan pemindahan pusat kerajaannya ke Kerajaan Islam baru di Demak. Jika kita hitung, ini adalah masa lebih dari 200 tahun sejak kedatangannya pertama kali di Jawa. Masa yang sangat panjang bukan?
Islam diperkenalkan kepada orang per orang, hingga menyentuh setiap jiwa. Para dai penyeru ini datang silih berganti, terlahir dan lalu berakhir masa hidupnya di dunia. Namun hal yang berlangsung pasti di setiap pergantian itu adalah ‘pewarisan tugas’. Bukan hanya ajaran Islam yang di sebarluaskan ke seluruh penjuru negeri, namun juga tugas dakwah, ia senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi.
Comments
Post a Comment