Mengapa kita berkonflik, siapa musuh kita sebenarnya?


Lingkungan tetangga tempat keluarga kami tinggal di sebuah komplek perumahan di kota Surabaya, sangat menyenangkan. RT (rukun tetangga) benar adanya berupa kumpulan tetangga yang hidup rukun (Mirip kaya pelajaran PMP waktu saya sekolah dulu :D ). Jika ada yang sakit atau melahirkan (siapapun orangnya, bahkan yang jarang terlibat di kegiatan masyarakat sekalipun), maka warga akan menengok secara  bersamaan, bukan sendiri-sendiri. Sembari membawa buah tangan dari dana sosial yang dikumpulkan warga setiap bulan. Kebiasaan ini membuat keriuhan dan keceriaan di tempat yang dituju. Selain itu, warga di tempat ini amat suka berpiknik bersama. Dalam satu tahun bisa dua kali menyewa bis untuk pergi ke tempat-tempat wisata, meskipun tidak jauh. Kegiatan ini semakin menambah keakraban di antara mereka.

Warga di lingkungan RT kami terdiri dari berbagai macam agama: Islam, Kristen, katolik. Beberapa diantaranya adalah warga keturunan tionghoa, namun bukan tipe orang ‘yang penting membayar iuran bulanan tapi nggak kenal kiri kanan’. Mereka berbaur dan terlibat dengan kegiatan warga. Di RT ini beberapa orang bisa di sebut sebagai para pemuka agamanya masing-masing, ta’mir masjid dan aktivis gereja.

Mereka juga sangat terbuka dan cepat beradaptasi, terutama dengan warga baru seperti kami. Meskipun belum genap dua tahun kami tinggal di lingkungan ini, namun mereka sudah memilih suami menjadi ketua RT, dan sayapun jadi bu RT :D .

Bagaimana dengan lingkungan tempat tinggal anda? Tidak jauh berbeda bukan? Itulah Indonesia, watak asli masyarakatnya sesungguhnya sangat harmoni. 
J

Lalu jika rakyat Indonesia yang sebenarnya adalah masyarakat yang harmoni, lalu mengapa bisa terjadi konflik? Siapa musuh kita sebenarnya?

Konflik adalah timbulnya suatu pemahaman yang tidak sejalan antara beberapa pihak. Selain itu dapat juga timbul sebagai pertentangan kepentingan dan tujuan antara individu atau kelompok. Hal ini terjadi jika dalam hubungan tersebut terjadinya suatu kesenjangan status sosial, kurang meratanya kemakmuran serta kekuasaan yang tidak seimbang. (Sunaryo, 2002)

Belajar dari berbagai kasus yang muncul di Indonesia. Meskipun perbedaan suku, agama, ras bisa saja menjadi pemicu atau katalisator. Berbagai studi tentang penyebab konflik menunjukkan bahwa sumber utama konflik adalah akumulasi "tekanan" secara mental, spiritual, politik sosial, budaya dan ekonomi yang dirasakan oleh sebagian masyarakat  (Lamria, 2004). Situasi yang terjadi bisa berupa kekecewaan satu kelompok akibat kesenjangan perlakuan aparat birokrasi dan aparat hukum diantara pihak-pihak bertikai.  Atau makin terpinggirkannya satu kelompok tertentu  yang tereksploitasi kekayaan alamnya oleh kebijakan-kebijakan yang diskriminatif.

Dalam hal ini peran pemerintah sangat signifikan. Ia memiliki kekuasaan dalam menjalankan alat-alat negara. Aparat intelijen , POLRI, semuanya itu mestinya digunakan untuk mengayomi dan menciptakan ketertiban di masyarakat. Jangan sampai bertindak diskriminatif yang justru membuat keresahan ditengah masyarakat. Di sistem kekuasaan yang tidak seimbang, dimana satu unsur lebih mendominasi. Kejadiannya bisa lebih parah lagi. Alat-alat negara bisa digunakan sebagai alat untuk mempertahankan dominasi kekuasaan dan bukan justru melindungi masyarakatnya. Ini sangat disayangkan.

Meminjam kalimat Rocky Gerung (akademisi UI) yang merespon polemik seputar Hoax. “Pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. Orang marah. Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu.”

Hentikan konflik di antara sesama anak bangsa, lalu kenali musuh bersama. Mari tetap bersahabat dengan orang-orang di sekitar kita. Musuh kita bukan sesama kita. Kita semua adalah rakyat Indonesia yang menginginkan kehidupan yang damai. Musuh kita adalah ketidakadilan, diskriminasi hukum dan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Referensi:
1. Thomas Sunaryo, Manajemen Konflik dan Kekerasan, 2002.
2. Maria Lamria, Analisa Penyebab Terjadinya Konflik Horizontal di Kalimantan Barat, 2004.
4. Rocky Gerung, Hoax vs kebebasan berpendapat, pernyataan di acara Indonesia Lawyers Club (ILC), 2017.

Comments

Popular posts from this blog

Meninjau Ulang KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal): Pengantar

Cantiknya Gerhana Bulan Total di Langit Universitas Muhammadiyah Surabaya

Antara Ummul Quro, Wujudul Hilal Muhammadiyah dan KHGT