Anakku ikut Aksi 28 Oktober di Bundaran HI, Wisuda ITB Keesokan Harinya (Bagian 1)
Harina, 28 Oktober 2026
Matahari tampak merah dari jendela KA yang membawa kami ke Bandung dari Surabaya, perlahan langit mulai gelap. Hingga petang ini, pesan WA belum dijawab. Terakhir Fadhil merespon pagi hari sekitar pukul 8, “Ini sedang siap-siap mau ke Jakarta, Ummi. Ada 5 bus, sekitar 250 mahasiswa ITB akan menjadi bagian dari Aksi Mahasiswa di Bundaran HI #IndonesiaSadar. Aksi yang sudah dipersiapkan bahkan sejak enam bulan sebelumnya oleh mahasiswa dari kampus-kampus yang tergabung dalam Komite SADAR (Selamatkan Daulat Rakyat). Mahasiswa Demo di Tugu Proklamasi dan Tugu Tani Hari Ini | tempo.co.
![]() |
| Fadhil (4 dari kiri) dalam Aksi Komite Sadar di Tugu Proklamasi (20/10/2026). Komite Sadar melibatkan BEM UI, Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM ITB), mahasiswa Universitas Padjadjaran, BEM Universitas Diponegoro, BEM Universitas Negeri Semarang, Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Sema UGM), BEM Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, BEM Universitas Airlangga, serta Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya. (sumber: Mahasiswa Sampaikan Aspirasi di Tugu Proklamasi, Ajak Masyarakat Demo Pada 28 Oktober 2026 https://youtu.be/FNbGXltbU_4?si=l0R0K2Sda2RNXdCT) |
Anak kami, Fadhil Fatih Shiddiq, mestinya akan wisuda sarjana esok pagi 29 Oktober di Sasana Budaya Ganesha. Aku hanya bisa memantau media sosial, IG, Twitter, dll. mencari wajah anakku diantara ribuan pendemo. Kabarnya mahasiswa ITB bentrok dengan aparat.
https://www.instagram.com/reel/DfCIJNez7WN/?xtok=MjIzZ2J2YnFlODkz
Aksi hari ini dikemas lain dari biasanya, mahasiswa melepas
jas almamater kebanggaannya masing-masing. Melebur bersama menjadi satu, atas
nama rakyat Indonesia, tanpa sekat-sekat identitas. Salut! Ini belum pernah
dilakukan sebelumnya dalam Gerakan Mahasiswa Indonesia yang cenderung
menonjolkan almamater masing-masing, bahwa gerakan harus memperlihatkan
kontribusi dari elemen-elemen kampus yang
ada. Sungguh ini tidak mudah, menurunkan ego, melepas jas hijau, jas kuning,
jas biru dan melebur menjadi satu gerakan besar. Sungguh tidak mudah, kami alumni
mahasiswa dari era reformasi 98 mesti belajar pada kalian!
Mahasiswa hari ini menghayati butir-butir ‘Sumpah Pemuda’ melebihi kita para pendahulunya. Gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti menjadi ajang perebutan pengaruh ketokohan di panggung politik. Ia harus murni dan bertahan dengan kemurniannya. Bukankah tidak sedikit kita saksikan tokoh-tokoh pejuang mahasiswa di masanya, namun saat memegang kepemimpinan sesungguhnya ia tidak berbeda dengan badut-badut politik lainnya.
Aku masih ingat rasanya mencari keadilan di jalan. Kegelisahan anak-anak muda ini, degup perlawanannya, aku paham. Ketika jalur perwakilan rakyat buntu, maka rakyat harus mewakili dirinya sendiri. Ketika ruang-ruang kebijakan tertutup rapat, maka jalanan yang terbuka menjadi pilihan untuk menyuarakan sikap. Sebagai Ibu, tugasku hanya mendukung dan mendoakan.
Pukul 19.35, dari twitter beredar sebuah foto yang menggetarkan, jamaah Shalat Maghrib para demonstran di bundaran HI. Aku mengenali dengan cepat. Anakku Fadhil, dengan sweater biru merah strip putih favoritnya, menjadi Imam Shalat Maghrib itu. Tidak terasa air mata meleleh, rasanya dejavu. Dulu di tahun 1997-1998, setiap mau berangkat ikut aksi besar di Bandung atau Jakarta, aku selalu menyempatkan diri menelpon rumah. Masih terngiang ucapan Bapak diujung telpon, “Berangkat nak, niatkan berjuang, jaga Shalatnya. Jika sesuatu terjadi, Allah bersamamu.”
Rabbij'alni muqiimas salati wa min zurriyati Rabbana wa
taqabbal du’a. Rabbanagh firlii waliwalidayya wa lil muminiina Yawma yaquumul
hisaab..
(Bersambung)
![]() |
Shalat Maghrib berjamaah pada aksi 28 Oktober 2026 di Bundaran HI (Sumber: Twitter)![]() Sumber: Dokumentasi LFM ITB |





Comments
Post a Comment