Gerhana dan Bayang-bayang Perang Dunia

Malam ini, 3 Maret 2026, langit di atas Indonesia serta hampir separuh belahan dunia lainnya akan menyaksikan fenomena alam berupa Gerhana Bulan Total. Semua mata akan tertuju pada Bulan yang berubah warna menjadi merah darah. Namun, di balik keindahan ini ada ironi; dimana bayangan gelap yang menutupi Bulan adalah bayangan Bumi yang saat ini tengah dibayangi kecemasan akan kemungkinan perang dunia.

Hasil Citra Gerhana Bulan Total 2025, kredit: Galator UMSURA
Dokumentasi Gerhana Bulan Total 2025, kredit: Klub Astronomi Galator UMSURA

Sejarah mencatat betapa kuatnya pengaruh langit terhadap manusia. Pada 28 Mei 585 SM, terjadi pertempuran berdarah antara Medes dari Media (daerah barat laut Iran) dan orang-orang Lydian dari Eropa. Seperti diceritakan Herodotus dalam karyanya 'The Histories', kegelapan tiba-tiba akibat Gerhana Matahari Total membuat para prajurit dari kedua pihak tertegun dan langsung mencari jalan perdamaian.

Kredit gambar: EclipseWise - Eclipses of History: Part 1
                                            
 "...the day was on a sudden changed into night. This event had been foretold by Thales, the Milesian... The Lydians and Medes, when they saw the change, ceased fighting, and were alike anxious to have terms of peace agreed on."(Herodotus, The Histories)

Jika ribuan tahun silam, rasa kagum terhadap fenomena alam mampu membuat para pemimpin berhenti berperang, maka pertanyaannya kini adalah: mengapa di era modern yang penuh dengan data astronomi yang presisi, manusia justru semakin terobsesi memperbesar perbedaan dan memperkuat batas-batas?

Dalam sejarah Islam, ketika putra Nabi Muhammad SAW, Ibrahim, wafat di tahun 632 M, bersamaan dengan terjadinya Gerhana, Nabi dengan tegas mematahkan anggapan bahwa langit berduka atas wafatnya Ibrahim. Nabi bersabda bahwa benda langit adalah tanda kebesaran Tuhan yang objektif, dan tidak memihak siapa pun, termasuk seorang Nabi. Ini adalah pengingat bahwa alam semesta tidak berputar di atas ego atau kepentingan politik kita. Langit bersifat demokratis; ia tidak meminta izin diplomatik untuk melewati wilayah konflik, cahayanya jatuh secara adil di atas atap istana maupun di tengah tenda pengungsi.

Gerhana bulan total malam ini seharusnya menjadi cermin yang besar bagi kemanusiaan. Warna merah yang kita lihat pada Bulan sebenarnya adalah hasil pembiasan cahaya dari seluruh atmosfer Bumi yang semakin rentan akibat polusi, atau debu nuklir. Dalam skala astronomis, kita diingatkan bahwa Bumi hanyalah titik kecil yang tidak sanggup menanggung beban ego manusia yang terlalu besar. Semoga melalui pengamatan malam ini, kita menyadari bahwa satu-satunya musuh yang harus dikalahkan bukanlah bangsa lain, melainkan bayangan gelap dalam diri sendiri yang sering kali lebih menakutkan daripada gerhana apa pun.

Comments

Popular posts from this blog

Cantiknya Gerhana Bulan Total di Langit Universitas Muhammadiyah Surabaya

Mentari (Lagu Kampus ITB)