Pembentukan Karakter di Kampus ITB
Sabtu 15 Februari 2025, sejumlah 41 orangtua mahasiswa MIPA-IPA ITB angkatan 2022 bertemu dan bersilaturahmi di Hotel Mitra Bandung. Mungkin kedengaran agak aneh ada perkumpulan orangtua mahasiswa, yang lebih lazim adalah orangtua TK/SD/SMP/SMA. Anak sudah kuliah mestinya dibiarkan mandiri tanpa cawe-cawe orang tua kan? Namun setiap zaman punya cara dan kisahnya sendiri. Di era internet dan media sosial ini, semua orang dengan kesamaan alasan dan situasi bisa berkumpul dan bersahabat. Awalnya menjadi komunitas di dunia maya (WAG), selanjutnya berjumpa di dunia nyata.
![]() |
| Foto Bersama Orangtua para Pejuang UKT! ๐ |
Saya sendiri
orangtua mahasiswa ITB dan juga alumni ITB yang kuliah berkali-kali di ITB,
jurusan Astronomi Fakultas MIPA sejak S1, S2 dan (saat ini) S3 merasakan
pengalaman yang luar biasa. Saya katakan, beruntung sekali bisa kuliah di ITB.
Ada sistem dan budaya khas ITB yang mungkin tidak dapat ditemukan di kampus
lain. Sistem, lingkungan belajar, dosen, teman-teman, itu semua membentuk karakter
lulusan ITB. Saya ceritakan di sini beberapa diantaranya, alumni ITB yang
membaca tulisan ini boleh menambahkan di kolom komentar.
Menyontek di ITB, Tidak Ada Kamusnya!
Di ITB
sangat sulit untuk menyontek, tidak ada kamusnya. Tata tertib ujian sangat
ketat, tidak boleh membawa apapun selain alat tulis (kecuali jika ujiannya
memang openbook). Untuk kuliah-kuliah kelas besar seperti TPB, asisten
dan kakak tingkat diperbantukan untuk mengawas ujian. Bisa menyontek? Jangan
harap, meskipun tidak ada acara bentak-bentak suasananya seperti ospek, siapa yang
berani melawan senior? Pernah ada mahasiswa yang tetap bisa kerjasama sesama
peserta ujian, herannya dosen yang mengoreksi tetap dapat mendeteksi. Di kepala
dosen ITB seperti punya plagiarisme checker. Jika ketahuan atau terbukti
mencontek, tidak ampun nilai kita akan langsung E untuk matakuliah tersebut.
Bahkan ada dosen yang memberi skorsing untuk tidak dapat mengambil kuliahnya di
semester berikutnya. Nilai yang bisa diambil adalah bahwa kecurangan itu
memalukan, hargai diri anda sendiri dengan berbuat jujur.
![]() |
| Poster 'Lulus Ujian tanpa Contekan', Lokasi: Perpustakaan Pusat ITB. |
Dosen-dosen
ITB Berkarakter dan Provokatif!
Dosen-dosen ITB berkarakter
kuat dan terkadang provokatif (dalam makna yang positif), setidaknya yang pernah mengajar saya, sehingga mampu
menularkan kepada mahasiswanya. Berikut ini hanya beberapa dari sekian banyak dosen-dosen terbaik di ITB, khusunya di FMIPA. Saya ingat di sebuah kelas Fisika Kuantum,
Prof. Freddy P. Zen, beliau mengatakan “Kalau anda belajar Fisika itu hard
science, Astronomi hard science, Matematika hard science,
selain itu…soft semua”. Sains murni itu tulang punggung negara, ibarat
rumah dia fondasinya. Jika sains tidak kuat, negara akan runtuh. Pernah di
suatu waktu beliau masuk kelas dan berkata, ”Kalian jangan seperti orang-orang
yang suka kebut-kebutan di jalan, giliran di sirkuit balapan gak ada yang
menang”.
Saya pernah
ada di kelas Mekanika Lanjut Prof. Panthur Silaban, termsuk kelas yang
menyenangkan karena 2 jam kuliah tiap pertemuan maka 1 jam nya berisi cerita
pengalaman beliau yang menarik dan lucu. Konon beliau pernah belajar ke
muridnya Einstein, Peter Gabriel Bergmann, di Syracuse University, “Berarti saya
cucunya Einstein dan anda cicit-cicitnya Einstein”. Kata beliau, “Hanya orang-orang Yahudi
dan orang-orang terpandai di dunia yang ada disana, dan saya bukan Yahudi”
(bisa interpretasikan masing-masing kan apa itu artinya ๐). Begitulah dosen-dosen dengan gayanya yang unik, membangun
kepercayaan diri dan kecintaaan mahasiswa terhadap ilmu yang ditekuninya.
Teman-teman
yang Suka Belajar dan Sefrekuensi
Faktor
teman sangat berpengaruh bagi anak-anak muda terutama usia mahasiswa S1. Lembaga-lembaga
kemahasiswaan, unit-unit kegiatan mahasiswa, masjid kampus, bahkan
komunitas-komunitas hobby ikut membentuk karakter mahasiswa. Di ITB sayang
sekali kalau cuma kuliah mengejar IPK dan tidak aktif berkemahasiswaan. Kita
akan menemukan teman-teman dengan latar belakang yang beragam dari seluruh
Indonesia. Ada teman yang bertahan kuliah, karena tidak mampu tidur di masjid,
alhamdulillah terbantu beasiswa ITB dan akhirnya lulus bahkan dengan nilai
terbaik di antara teman-teman seangkatan di jurusannya. Bertemu dengan teman
sefrekuensi sangat menyenangkan, sama-sama suka membaca, berdiskusi
berhari-hari hingga hal-hal filosofis (istilahnya dulu; ‘diskusi sampai
mampus’). Saya sendiri selain pernah aktif di Keluarga Mahasiswa (KM-ITB), himpunan
mahasiswa Astronomi (HIMASTRON) dan unit kegiatan Perkumpulan Studi Ilmu
Kemasyarakatan (PSIK). Mahasiswa ITB kadang dinilai sombong, tapi sebenarnya
karena terlalu percaya diri. Antara percaya diri dan sombong sebetulnya beda
tipis. Percayalah, bergaul dengan teman-teman semacam ini bisa membuat kita
bangga dengan kesederhanaan, bangga dengan pemahaman ilmu.
Ini cuma
sekelumit cerita kuliah di ITB, belum menggambarkan seluruh seluk beluknya.
Yang jelas demikianlah mestinya sebuah lembaga pendidikan berperan. Bukan
sekedar transkip nilai di atas sehelai kertas, tapi juga turut membentuk
karakter peserta didik. Siapa mau kuliah di ITB? Yuk.
![]() |
| Bersama Bapak dan Ibu Panitia ๐. |





Comments
Post a Comment