"Ummi, Kenapa Bulannya menjadi Merah?"

Langit adalah sumber inspirasi. Tidak terkecuali Bulan. Keindahan, perubahan bentuk di setiap hari dan penampilannya dalam berbagai fenomena seperti gerhana menimbulkan kekaguman dan pertanyaan yang muncul di benak siapapun yang memandangnya.

Sore hari ini tanggal 26 Mei 2021 akan terjadi fenomena Gerhana Bulan Total. Fenomena ini dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia, meskipun totalitasnya hanya dapat di amati di Pulau Jawa, Kalimantan dan sebagian Sumatera. Jika dibandingkan dengan Gerhana Matahari Total, fenomena ini relatif tidak langka. Dalam beberapa tahun ke depan kita akan kembali dapat menyaksikan Gerhana Bulan Total. Meskipun demikian, amat sayang jika dilewatkan. Karena tidak setiap hari ada gerhana kan? 
Kredit foto: NASA

Saya selalu menikmati saat-saat semacam ini untuk 'menikmati' bulan bersama anak-anak. Mereka sekarang sudah tumbuh remaja. Namun obrolan-obrolan saat mereka kecil tidak mudah dilupakan. Berikut diantaranya yang saya kutip dari ingatan saya saat menyaksikan fenomena gerhana Bulan Total dimana Bulan akan tampak memerah (Blood Moon):
"Ummi, kenapa Bulannya jadi merah?" tanya anak-anak.
"Saat gerhana bulan tiba, bulan akan tertutup bayangan bumi,"kataku. 
"Apa bulan akan tertutup sedikit demi sedikit seperti gerhana matahari?" 
"Tidak seperti matahari yang tertutup seluruhnya, Bulan masih terlihat, hanya warnanya sekarang menjadi merah."

"Ummi, kenapa Bulannya jadi merah?" Anak-anak kembali ke pertanyaan awal mereka.
"Bulan menjadi merah karena masih ada cahaya matahari yang sampai ke bulan. Cahaya matahari kan punya banyak warna, ada yang merah, kuning hijau biru, dan ungu. Yang kelihatan putih itu sebetulnya campuran semua warna"
. "Oh yaa..Wow, kaya warna pelangi yaa?" mata anak-anak itu berbinar-binar membayangkan cahaya matahari ternyata berwarna warni.
 "Nah, waktu cahaya matahari melewati atmosfer bumi saat gerhana bulan semua warna di hamburkan. Kecuali yang warna merah, dia bisa melewati atmosfer. Warna merah hanya berbelok saja arahnya lalu mengenai permukaan bulan. Itu sebabnya bulan kelihatan merah." .

"Kenapa cuma merah yang bisa lewat, kenapa yang lain tidak?" tanya anak-anak lagi.
Saya terus berusaha menjawab, sambil mencari kata-kata yang paling mudah dimengerti.
"Kamu tahu atmosfer kan, lapisan udara yg menyelubungi bumi. Bukan cuma gas saja isi atmosfer itu, tapi juga debu (partikel padat) dan titik-titik air. atmosfer bumi akan menghamburkan cahaya yg ukurannya gelombangnya pendek, sepeti cahaya biru dan ungu.

"Lho... Cahaya itu memangnya seperti gelombang laut? "
"Iya, cahaya itu seperti gelombang laut, dia datang bergelombang dari sumbernya agar bisa sampai ke kita. Ada yg gelombangnya pendek, ada yg panjang. Begitu nak."

Demikian sekedar bercerita tentang memori indah bersama anak-anak. Jangan lupa menyaksikan gerhana nanti sore. Menyaksikan kebesaran Allah, sambil mendengar banyak pertanyaan dari anak-anak.


Comments

Popular posts from this blog

Gerhana dan Bayang-bayang Perang Dunia

Langit Mengajarkan Keseimbangan, Begitu Juga Hidup (Wawancara Tokoh, Majalah Observatoria)

Cantiknya Gerhana Bulan Total di Langit Universitas Muhammadiyah Surabaya