Berhati-hatilah terhadap kenaikan suhu udara saat ekuinoks! Benarkah?
Seorang kawan bertanya kepada saya mengenai sebuah berita di TV tentang anjuran berhati-hati saat ekuinoks hari ini tanggal 23 September. Pembawa berita menyebutkan bahwa suhu di siang hari akan meningkat hingga 36 derajat, sehingga masyarakat diminta untuk waspada dan mengurangi aktivitas di luar rumah karena udara yang terlalu panas akan berdampak buruk bagi kesehatan. Berikut rekaman video 1 menit 26 detik tersebut.
Berita semacam itu selaalu berulang setiap tahun menjelang ekuinoks tanggal 23 september atau 21 maret. Dari level ringan seperti kenaikan suhu yang menyebabkan meningkatnya penguapan dan kenaikan gelombang air laut (seperti berita berikut: http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/09/21/owmm17382-sumbar-bersiap-alami-ekuinoks-apa-dampaknya-untuk-warga), hingga level paling lebay seperti berita serangan gelombang panas yg ramai di bulan maret tahun lalu. Apakah ekuinoks itu? Benarkah saat ekuinoks Indonesia akan mengalami perubahan suhu yang ekstrem? Tulisan ini berusaha menjawab satu persatu pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Apakah ekuinoks itu?
Kemiringan sumbu rotasi bumi menyebabkan posisi matahari berubah-ubah sepanjang tahun relatif terhadap bumi. Ekuinoks adalah peristiwa ketika bidang ekuator bumi melewati pusat piringan matahari. Saat itu matahari tepat berada di atas khatulistiwa/ekuator (garis lintang 0 derajat di permukaan bumi). Terjadi dua kali ekuinoks dalam satu tahun, yaitu sekitar tanggal 21 Maret dan 23 September. Perubahan posisi matahari terhadap bumi akan menyebabkan variasi arah radiasi matahari sekaligus intensitas radiasi yang diterima sebuah tempat di bumi sepanjang tahun. Hal ini berdampak terutama pada iklim di bumi dan perbedaan panjangnya siang dan malam. Mengapa demikian? Matahari adalah sumber terbesar panas bumi dan seluruh planet di tata surya, ia sangat mempengaruhi kehidupan di bumi. Bayangkan, daya radiasi rata-rata yang diterima bumi dari matahari sebesar 1362 Kilowatt untuk setiap meter persegi permukaan bumi!
Nama "Ekuinoks" berasal dari bahasa Latin aequus (yang berarti sama) dan nox (yang bermakna malam). Nama ini menggambarkan situasi saat ekuinoks, dimana panjang siang dan malam di seluruh permukaan bumi 'nyaris' sama.

Sumber gambar: Physical Geography, by: James F. Petersen, Dorothy Sack, Robert E. Gabler
Saat ekuinoks, sinar matahari yang datang di daerah khatulistiwa akan datang dalam arah yang tegak lurus. Hal ini menyebabkan intensitas radiasi matahari yang diterima khatulistiwa lebih tinggi dibandingkan tempat-tempat lain di bumi yang arah sinar mataharinya lebih miring. Perhatikan dua gambar berikut ini. Radiasi matahari yang datang dengan arah yang lebih tegak lurus akan mengenai daerah yang lebih sempit, sehingga intensitas radiasi matahari yang diterima juga akan lebih besar.
Sumber gambar: Physical Geography, by: James F. Petersen, Dorothy Sack, Robert E. Gabler
Benarkah suhu udara akan meningkat saat ekuinoks?
Perhatikan gambar berikut ini: Saat ekuinoks intensitas radiasi matahari yang diterima khatulistiwa lebih tinggi dibandingkan tempat-tempat lain di bumi yang arah sinar mataharinya lebih miring. Jika tiap meter persegi daerah di khatulistiwa menerima radiasi matahari sebesar 100%, maka daerah lintang 60 derajat utara atau selatan akan menerima radiasi kira-kira separuhnya. Intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi tentu saja akan menyebabkan keadaan suhu yang lebih tinggi di khatulistiwa, misal Pontianak, Indonesia, dibandingkan negara-negara lain yang berada lebih ke utara atau selatan.
Sumber gambar: Physical Geography, by: James F. Petersen, Dorothy Sack, Robert E. Gabler
Lalu seberapa besar perbedaan suhu di Khatulistiwa saat ekuinoks dan saat tidak ekuinoks?
Perubahan posisi matahari, dalam hal ini deklinasi matahari (jarak sudut antara matahari dengan bidang ekuator bumi jika dilihat dari pusat bumi), variasinya berkisar antara -23,5 sampai +23,5 derajat. Artinya, matahari akan berada tepat di atas daerah yang lintangnya juga bervariasi antara 23,5 lintang utara sampai 23,5 lintang selatan. Daerah-daerah di Indonesia paling utara berada di lintang 6 derajat lintang utara dan yang paling selatan adalah 11 derajat lintang selatan. Semua wilayah di Indonesia akan mendapati jarak sudut matahari ke zenit (titik imajiner di langit yang berada tepat di atas kepala pengamat) dengan variasi sudut berkisar antara 0 sampai maksimum 34,5 derajat saja. Hal ini berdampak pada kecilnya variasi jumlah radiasi yang diterima daerah sekitar Khatulistiwa seperti Indonesia sepanjang tahun jika dibandingkan dengan negara-negara yg lintangnya lebih tinggi.
Perbedaan suhu saat ekuinoks dengan tidak ekuinoks di khatulistiwa tidak terlalu berbeda jauh. Apalagi suhu udara atau cuaca lokal juga sangat dipengaruhi oleh faktor lain seperti pola awan dan keadaan angin. Keadaan yang berbeda terjadi pada daerah di lintang tinggi seperti bagian utara Asia dan Amerika serta Eropa. Daerah-daerah tersebut mendapati posisi matahari terhadap zenitnya dengan variasi jarak sudut yang besar. Hal tersebut menyebabkan adanya empat musim dan perbedaan suhu yang mencolok dari bulan ke bulan sepanjang tahun.
Terakhir, mari kita tinjau keadaan temperatur Indonesia di waktu ekuinoks dan di waktu tidak ekuinoks. Saya ambil contoh sebuah kota yang dilewati garis khatulistiwa yaitu Pontianak:
sumber: https://www.accuweather.com/en/id/pontianak/209030/september-weather/209030
Tampak bahwa suhu udara di siang hari di pontianak selama bulan september berkisar antara 29-35 derajat celsius. Tidak ada perubahan suhu yang ekstrim di sekitar saat ekuinoks tanggal 23 September 2017. Bahkan suhu tanggal 15 September lebih tinggi dibandingkan saat tanggal 23 September.
Lalu bagaimana keadaan suhu di Pontianak misalnya pada tanggal 22 Juni 2017. Saat itu matahari berada di titik terjauhnya dari Pontianak dengan jarak 23,5 derajat ke arah utara dari zenit pengamat di Pontianak.
sumber https://www.accuweather.com/en/id/pontianak/209030/month/209030?monyr=6/01/2017
Tampak pada gambar bahwa suhu di Pontianak selama bulan Juni berkisar antara 30-35 derajat celsius. Tidak terlalu berbeda jika dibandingkan dengan saat ekuinoks tanggal 23 September.
Oleh karena itu, saya menilai bahwa pemberitaan di media massa mengenai peringatan kenaikan suhu yang besar saat ekuinoks tidak proporsional dan kurang tepat dalam hal mengedukasi masyarakat. Interpretasi yang kurang tepat dalam pemberitaan media khususnya seputar fenomena Astronomi akan menimbulkan kecemasan yang tidak perlu di masyarakat. Sekian tulisan saya, semoga bermanfaat!
===========================================================
Referensi:
1. https://en.wikipedia.org
2. https://www.accuweather.com
3. Physical Geography (Chapter 3 Earth-Sun Relationship and Solar Energy), by: James F. Petersen, Dorothy Sack, Robert E. Gabler




Comments
Post a Comment