Mengajarkan Anak Berpuasa, Ini Tahapannya!

Ramadhan kali ini anak kembar saya yang berusia 6 tahun mulai berpuasa sehari penuh. Dahulu kakak-kakaknya ada yang mulai 5 tahun dan ada juga yang mulai 7 tahun. Mereka pernah mengalami berpuasa sehari penuh di Indonesia dan pernah juga mengalami berpuasa sehari penuh di Jerman ketika Ramadhan bertepatan dengan hari-hari yang panjang di sekitar puncak musim panas Benarkah anak-anak perlu dibiasakan untuk berpuasa? Kasihan sekali…mereka kan masih anak-anak? 
foto: google.co.id


Sebenarnya bukan hanya puasa, ibadah-ibadah yang lain juga membutuhkan pembiasaan, atau lebih tepatnya penyiapan, agar kelak ketika mereka akil baligh, mereka akan lebih mudah memikul beban syariat itu. Mari kita cermati hadits berikut ini:

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus untuk mengumumkan pada pagi hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di sekitar kota Madinah. ‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa, hendaknya menahan (makan dan minum) sampai malam. ’Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR Bukhari dan Muslim) 

Meskipun latar belakang hadits di atas bukan saat bulan Ramadhan, tetapi cukup memberikan gambaran bagaimana anak-anak di masa Rasulullah juga dibiasakan berpuasa. Tentu saja tidak semua anak-anak mudah disuruh berpuasa. Beberapa anak sangat suka makan, atau kadang mereka juga sangat aktif dan tidak bisa diam sehingga cepat sekali kehausan. 

Bagaimana caranya mengajarkan puasa? Berikut saya tuliskan tahapan mengajarkan anak-anak berpuasa berdasarkan pengalaman saya mendampingi keempat anak saya berpuasa. 
1. Pelajaran saat berbuka: 
“Nak, puasa itu enak. Saat berbuka, kamu bisa makan makanan yang enak-enak.” Jauh sebelum kita memiliki target mengajarkan anak menahan lapar, maka kegembiraan saat berbuka adalah yang pertama harus dirasakan anak-anak. Kita bahkan bisa melakukannya sejak anak-anak sudah dapat diajak berkomunikasi. Bisa dimulai ketika anak berusia 2 tahun, 3 tahun, meskipun saat itu mereka sama sekali tidak berpuasa. Ajaklah mereka duduk bersama di meja makan, berdoa bersama dan menikmati hidangan berbuka puasa. Sungguh mereka juga akan merasakan kegembiraannya. Rasulullah SAW bersabda :"Orang yang berpuasa itu akan mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu dengan Robb-nya." (HR Bukhari dan Muslim). Bukan hanya ketika di meja makan. Saat saya sedang memasak menyiapkan hidangan berbuka, anak-anak biasanya sudah mulai bertanya, “Ummi lagi buat apa?” Maka saya jawab pertanyaannya dan mengatakan juga, ”Nak, ini buat orang yang berbuka puasa.” Atau ketika kita sedang sibuk menyiapkan tajil saat mendapat giliran di masjid, maka katakan lagi kepada anak-anak, ”Makanan ini Nak, buat orang yang berpuasa.” Anak-anak akan berfikir: alangkah enaknya orang yang berpuasa itu. 

2. Pelajaran saat sahur: 
“Makanlah Nak, makanan waktu sahur itu berkah, bisa membuat kamu sehat dan kuat berpuasa sampai sore.”
Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (Muttafaqun ‘alaih) 


Tahapan ini juga mutlak dilakukan sebelum menyuruh anak-anak berpuasa. Bagaimana mungkin bisa kuat menahan lapar seharian jika mereka tidak sahur? Buat orang dewasa saja berat, apalagi anak-anak. Lalu bagaimana membuat mereka mampu bangun sebelum Shubuh? Bangun untuk Shalat Shubuh saja sulit` Apalagi membuat mereka mau makan, bagaimana caranya? Sebenarnya inilah saat yang paling tepat untuk mendisiplinkan kebiasaan harian anak-anak, terutama waktu tidur dan waktu makan. Belajar bangun pagi dan makan teratur. 

Bangun pagi 
Bagaimana agar bisa bangun pagi? Anak-anak tidak boleh kurang tidur. Bagaimana agar anak-anak tidak kurang tidur? Janganlah tidur terlalu malam. Bagaimana agar anak-anak tidak tidur terlalu malam? Buatlah suasana yang mendukung anak-anak agar cepat tidur. Suasana seperti apa itu? Rumah yang tenang di jam yang kita tentukan sebagai waktu tidur anak-anak, bisa jam 8 atau jam 9. Matikan televisi atau hal apa pun yang menimbulkan kebisingan. Jika anak-anak belum terbiasa tidur cepat, temani dulu mereka. Meskipun mereka belum bisa memejamkan mata, pastikan posisi mereka sudah dalam keadaan istirahat, berbaring di tempat tidur. Mendongenglah atau bacakan buku. Meskipun mereka belum bisa tidur, tapi mereka biasanya lebih tenang dan penuh perhatian. Lalu bimbinglah untuk membaca doa sebelum tidur, dan jangan lupa selipkan doa khusus, “Ya Allah, bangunkan aku nanti di waktu sahur ya Allah…” Memang sulit jika kita baru melakukan sekarang dan ingin melihat hasilnya sekarang. Pembiasaan tidur cepat ini membutuhkan waktu dan konsistensi kita sebagai orang tua. Berorientasilah pada proses dan bukan pada hasil. Percayalah manfaat bangun pagi tidak hanya diperlukan saat bulan puasa saja, tapi juga diperlukan kapan saja di seluruh waktu hidup mereka. Tidak perlu sedih bagi orang tua yang baru mau memulainya sekarang. Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk memulainya. Jika sepuluh hari yang pertama ini kita masih sulit membangunkan sahur, mungkin di sepuluh hari yang kedua lebih mudah lagi, atau kemudahan itu mungkin baru kita dapatkan di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Jika kebiasaan baik ini kita teruskan hingga ke bulan-bulan setelah Ramadhan, mudah-mudahan Ramadhan tahun depan kita sudah tidak memiliki kesulitan lagi membangunkan anak-anak untuk sahur. Insya Allah… 

Makan teratur 
Puasa sebetulnya hanya mengurangi hanya satu kali waktu makan, yaitu makan siang. Waktu makan pagi digeser menjadi makan sahur, sedangkan waktu makan sore atau malam dilakukan saat berbuka sampai menjelang tidur.  Ketika puasa, waktu makan kita menjadi tidak seleluasa saat kita tidak puasa. Ketidakleluasaan waktu makan ini menjadi sarana yang baik sekali untuk mendisiplinkan waktu makan anak-anak, makan menjadi lebih teratur. Idealnya menu makan sahur adalah menu yang bergizi dan terukur mampu memenuhi kebutuhan tubuh anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan selama berpuasa. Biasanya saya mengatakan kepada anak-anak, “Buahnya dimakan ya, itu akan cepat diserap dan digunakan tubuh dipagi hari. Lalu nasinya kita perlukan buat tenaga kita nanti di waktu dhuha. Sayur, tempe akan terpakai nanti di siang hari, ayam atau daging akan terpakai nanti buat tenaga di sore hari. Minumnya juga ya nak. Insya Allah kamu kuat sampai sore hari.”

Para pembaca mungkin memiliki teori tersendiri mengenai pola makan. Kalau saya cenderung memotivasi dan membiasakan anak-anak untuk memakan jenis makanan yang bervariasi. Karena semua jenis makanan memiliki kandungan dan manfaatnya sendiri-sendiri. Untuk mengajarkan anak-anak agar dapat makan sahur dengan baik tentu saja memerlukan waktu dan kesabaran kita. Seandainya ia belum mampu memakan berbagai jenis makanan, tidak mengapa ia memakan makanan yang ia sukai saja. Oleh karena itu, kebiasaan makan yang baik memang harus diusahakan terus, baik di masa bulan puasa dan di luar bulan puasa. Atau jika ia tidak mau makan sama sekali, mulailah dengan memotivasi ia untuk sekedar minum air putih saja, lalu ajaklah berdoa: “Ya Allah berkahi air putih ini, jadikan aku sehat dan kuat puasa ya Allah..” 

Dari Abi Said al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sahur itu barakah maka jangan tinggalkan meski hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur”. (HR Ahmad) 

Ayah dan Bunda… Jika tahapan 1 dan 2 telah terlampaui, maka mampu berpuasa adalah akibat saja. Kemudian tahapan-tahapan berikutnya sifatnya adalah menarik komitmen dan memperkuat mental. Oleh karena itu jangan dibalik, kadang kita sangat fokus dalam usaha menarik komitmen dan memperkuat mental anak yang berpuasa, tapi kurang berkonsentrasi pada tahapan awalnya yang menjadi sebab. Terlalu fokus pada capaian hasilnya, misal ‘oh anakku targetnya harus puasa 4 jam hari ini, lalu lain waktu menjadi 6 jam dan seterusnya sampai 1 hari penuh’, tetapi kurang fokus pada proses penyiapannya, yaitu kesenangan berbuka sebagai pembentukan persepsi yang positif dan makan sahur yang optimal sebagai bentuk penyiapan kemampuan fisik. Dengan melakukan tahap demi tahap secara berurutan, mudah-mudahan anak-anak kita lebih siap ketika menjalankan ibadah puasa. Sekarang kita lanjutkan ke tahapan berikutnya: 

3. Pelajaran saat berpuasa:
“Nak, sekarang kamu sudah besar. Kamu sudah bisa mulai belajar puasa”. Atau setelah pengondisian di tahapan-tahapan sebelumnya bisa saja anak kita dengan sendirinya berkata, ”Ummi, aku juga ingin puasa...,” maka inilah saatnya. Katakan dengan jelas di awal apakah definisi puasa itu. Bahwa puasa itu adalah menahan diri tidak makan dan minum sejak shubuh sampai maghrib. Jadi kalau kurang dari itu, artinya kita belum puasa, tapi belajar puasa. Anak-anak tidak berdosa kalau tidak puasa, tapi anak-anak perlu belajar puasa kalau belum bisa berpuasa sehari penuh. Saya mengatakan demikian kepada anak-anak, agar mereka tidak terlalu merasa terbebani. Pelajaran agama ini juga perlu ditanamkan secara proporsional. 

Saya pernah menghadiri sebuah seminar kecil tentang mengajarkan anak berpuasa. Pembicara dalam acara tersebut bercerita bahwa anaknya yang masih SD sudah berpuasa, lalu ketika sakit panas tinggi dan disuruh berbuka si anak menolak dengan alasan ‘aku ingin jadi anak shalih yang disayang Allah’. Lalu saya mendengar sebagian peserta berkata, ‘Subhanallah... luar biasa sekali anak itu’. Menurut saya itu tidak sepenuhnya benar, karena meskipun menanamkan semangat beribadah itu baik, ajarkan juga tentang rukhsah, keringanan dan kemudahan dalam beragama. Tanamkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan sistem hidup yang paling seimbang, Dan mereka anak-anak, telah merasakannya sejak kecil, meskipun kita tidak menjelaskan dengan kata-kata dan definisi yang rumit. 

Kemudian mari kita memulai dengan bersepakat tentang lamanya ia akan berpuasa. Kita orang tuanya tentu saja yang paling tahu tentang kesiapannya. Tidak sama antara anak kita dengan anak orang lain. Bahkan di antara saudara, adik dan kakak, mereka tidak bisa dibandingkan. Mereka tumbuh dengan kondisi yang spesifik, berbeda satu sama lain. Buatlah kesepakatan lamanya puasa berdasarkan pengamatan kita sebagai orang tua mengenai kesiapan fisik dan mentalnya. Kesepakatan ini membutuhkan persetujuannya. Lebih mudah memaksa dia memenuhi hal-hal yang ia telah sepakat di awal dibandingkan jika itu hanya keinginan orang tua saja. Pengalaman saya untuk anak pertama. Di awal melatih puasa, saya cukup repot tarik ulur tentang lamanya berpuasa. Hari ini jam 10, besok jam 12, lalu jam 14, lalu kembali lagi ke jam 12. Itu karena saya terlalu fokus dengan melatih menahan lapar dan bukan melatih penyebabnya. Saya tidak tega membangunkan sahur. Lalu sarapan pagi jam 6 saya menyebutkan itu sebagai sahur. Atau kadang-kadang jam 7 menurut waktu bangunnya. Akhirnya tarik ulur saat puasa tidak terelakkan. Tidak ada komitmen yang jelas di awal, dan saya juga kurang konsisten. Alhamdulillah, setelah melakukan evaluasi, untuk anak-anak yang selanjutnya menjadi terasa lebih mudah.

Lalu bagaimana kegiatan saat berpuasa? Saya merasa tidak perlu berpanjang lebar tentang ini, karena pada umumnya orang tua cukup kreatif memberikan permainan atau hiburan buat anak-anak, namun tidak terlalu menguras aktivitas fisik.

"Kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR Bukhari dan Muslim) 

Perlu saya tambahkan di sini bahwa orang tua juga perlu mengetahui tanda-tanda dehidrasi, ringan sampai berat. Terutama bagi anak-anak yang belum optimal makan dan minumnya ketika berbuka dan sahur, dan anak-anak yang sangat aktif bergerak. 

4. Pelajaran saat ke masjid: 
“Lihat Nak, orang-orang yang tarawih ini siangnya berpuasa. Bukan cuma kita, orang-orang juga berpuasa. Mereka shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari.” Ibadah puasa adalah ibadah yang tidak cukup terlihat secara kasat mata. Tidak terlalu berbeda antara orang yang berpuasa dan yang tidak. Maka pergi ke masjid adalah sebuah cara untuk menemukan ‘suasana’, bertemu dengan orang-orang yang sedang beribadah. Mengetahui bahwa bukan hanya dirinya yang berpuasa, tapi juga orang lain. Bagi anak-anak memberikan semangat tersendiri. Jika kita sedang berada di luar negeri atau di tempat dimana islam minoritas, maka cara ini akan terasa sekali manfaatnya. Oleh karena itu sangat disayangkan jika beberapa masjid saat ini justru kurang ramah terhadap anak-anak. Kadang-kadang sampai jelas tertulis: ‘dilarang membawa anak kecil’. Padahal dahulu Rasulullah membawa cucu-cucunya Hasan dan Husain ke masjid, bahkan membiarkan cucunya tersebut menaiki punggung beliau hingga lama sekali ketika beliau sedang sujud. Sampai orang-orang yang menjadi makmum mengira bahwa Rasulullah sedang menerima wahyu, karena lamanya beliau sujud.  Rasulullah baru bangun dari sujudnya ketika cucunya tersebut puas bermain dan turun dari punggung beliau. 

Saya tuliskan kembali cuplikan hadits di awal tulisan ini: “…kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid…” (HR Bukhari dan Muslim) 

Untuk menemukan ‘suasana’ ibadah di bulan Ramadhan, rumah juga bisa dikondisikan. Keluarga kami misalnya memiliki tradisi untuk menghias rumah ketika masuk Ramadhan. Dan anak-anak sendiri yang paling punya peran dalam usaha menghias rumah menurut yang mereka inginkan.  

5. Hadiah 
Jika kita orang dewasa ditanya, apakah harapan terbesar kita dengan menjalankan ibadah puasa? Jawabannya tentu saja agar mendapatkan pahala dari Allah SWT. Kemudian bagaimana dengan anak-anak? Bagi anak-anak, selain janji akan pahala dari Allah SWT, mereka tentu akan lebih bersemangat jika diberi hadiah atas usaha yang mereka lakukan, sebagai ‘pahala’ tambahan buat anak-anak yang shalih ini. Mudah-mudahan tahapan-tahapan mengajarkan anak berpuasa yang telah saya tuliskan bermanfaat bagi yang membacanya. Dan semoga kelak anak-anak kita semua menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, menjadi cahaya mata bagi orang tuanya di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin

http://www.kompasiana.com/iyam103/mengajarkan-anak-berpuasa-ini-tahapannya_558cc51e159773030ffee005

Comments

Popular posts from this blog

Gerhana dan Bayang-bayang Perang Dunia

Langit Mengajarkan Keseimbangan, Begitu Juga Hidup (Wawancara Tokoh, Majalah Observatoria)

Cantiknya Gerhana Bulan Total di Langit Universitas Muhammadiyah Surabaya