Jiwa Pembebas dan Kepeloporan Kartini, Bagaimana Ia Tumbuh?
![]() |
(Surat Kartini kepada Nn
E.H. Zeehandelaar, tanggal 25 Mei 1899)
Cita-cita dan semangat Kartini tampak jelas dalam semua surat yang ditulis
untuk sahabat-sahabatnya dalam sebuah buku kumpulan surat Kartini berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Cita-cita
itu bukan hanya soal keinginan-keinginan tentang dirinya sendiri, tapi juga
cita-citanya tentang masyarakat yang maju dan bermartabat. Ia berkeinginan
menjadi guru dan membuat sekolah khusus perempuan. Meskipun untuk itu ia harus
berhadapan dengan adat dan orang-orang yang tidak mendukung idenya. Dalam
suratnya kepada Marie di awal tahun 1900 Kartini menulis “Kami akan
menggoncangnya, ibu sayang, dengan segala kekuatan walaupun yang akan runtuh
hanya satu butir batu saja, maka kami akan merasa bahwa hidup kami tidak
sia-sia.”
Hal yang luar biasa bagi seorang gadis di masa itu, bahkan meskipun ia
hidup di masa 100 tahun sesudahnya. Pikiran dan perasaannya, melampaui zaman
Hindia Belanda kala itu dimana kondisi kebanyakan masyarakat pada waktu itu,
terutama kaum perempuannya, hidup sekedar menerima saja pada apa yang menimpa
dirinya. Melaksanakan apa saja yang menjadi adat dan kebiasaan yang berlaku di
masyarakat. Hidup terjajah bukan saja secara fisik, tapi juga mental.
“Pada usia 12 tahun saya harus tinggal di
rumah, saya harus masuk kotak, terkurung di rumah, terasing dari dunia
luar..Saya harus memasuki penjara saya. Empat tahun yang berlangsung sangat
lama itu saya habiskan di antara empat dinding tebal, tanpa pernah melihat
apapun dari dunia luar.”
Cerita Kartini tentang ‘penjara‘ mengerikan yang harus diterimanya sejak
hari terakhir ia boleh bersekolah di ELS (Europese Lagere School) cukup memberikan
gambaran kepada kita betapa nestapanya hari-hari Kartini dalam menjalani masa pingitan. Membaca kembali kumpulan surat
Kartini selalu menimbulkan kepedihan buat saya, sekaligus kekaguman. Bagaimana
mungkin dengan kondisi zaman yang tidak menguntungkan saat itu dapat tumbuh
pada diri Kartini karakter perempuan pembebas dan pelopor perubahan bagi
masyarakat di sekitarnya?
Pertama, Kartini banyak
membaca dan berdiskusi.
Secara fisik ia terkurung, tapi tidak dengan pikiran dan jiwanya. Ia berkelana dan
berguru pada buku-buku yang dibacanya. Kartini banyak membaca beragam buku
bermutu. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya
Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Kartini
sangat menggemari tulisan-tulisan Multatuli, seorang Belanda yang berpihak pada
kepentingan Hinda Belanda (Indonesia). Kartini belajar arti “penindasan”
darinya.
Buku-buku lain yang tidak luput dibaca Kartini adalah De Stille Kraacht (Kekuatan
Gaib) karya Louis Coperus, kemudian karya Van Eeden, karya Augusta de Witt,
roman-feminis karya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang
berjudul Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata) karangan Berta Von Suttner. Selain
itu juga buku tema gerakan feminisme dan sosialis seperti de Gids dan Armsterdammer.
Ia juga membaca dan ingin tahu jalannya politik balas budi Belanda melalui
buku-buku pemberian ayahnya seperti Kerja Kemasyarakatan di India.
Kartini amat mencintai buku. Dalam suratnya kepada Prof.G.K Anton ia
bercerita bahwa dari pukul tujuh sampai pukul tiga dini hari, ia terus menerus
membaca. Kartini kadang mengulas buku yang dibacanya kepada sahabat penanya. Ia
bercerita pernah berdebat dengan seseorang tentang manfaat buku. Kartini percaya,
buku dan kegemaran membaca akan membawa banyak perubahan bagi bangsanya.
Selain digunakan untuk membaca, kemampuan berbahasa Belanda yang ia peroleh
di masa bersekolah di ELS digunakan untuk berkorespondensi sekaligus berdiskusi
dengan kawan-kawannya di Belanda. Ia banyak menuliskan perasaan dan
pemikirannya tentang kondisi sosial masa itu terutama kondisi perempuan pribumi
dalam surat-suratnya tersebut. Dengan menulis, ide dan pemikiran Kartini abadi
dalam ruang dan waktu. Melewati dinding-dinding rumahnya hingga ke tempat yang
jauh dan kita nikmati pula hingga hari ini.
Kedua, pendidikan keluarga
yang mendukung terutama peran ayah.
Faktor lingkungan yang ikut mewarnai karakter Kartini tentu saja bukan
satu-satunya. Ada sebuah faktor lain yang justru lebih dahulu dan lebih utama,
yaitu faktor keluarga. Ia berasal dari keluarga yang peduli terhadap
pendidikan. Ayah Kartini, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV,
Bupati Demak yang terkenal di abad ke-19
yang menyekolahkan seluruh anak-anaknya termasuk ayah Kartini. Meskipun
sang ayah belum dapat memberikan kebebasan sepenuhnya pada Kartini dalam hal
pendidikan di sekolah formal karena tekanan adat istiadat yang berlaku bagi
anak-anak perempuan. Namun beliau cukup memberikan kesempatan bersekolah bagi
Kartini melebihi anak-anak perempuan dari para bangsawan Jawa lain pada
umumnya, yaitu hingga usia 12 tahun. Selanjutnya, ketika Kartini menjalani masa
pingitan di rumah, sang ayah adalah penyedia utama berbagai macam buku bermutu
yang dibaca oleh Kartini.
Mengenai ayahnya, Kartini bercerita bahwa beliau sangat dekat dengan
anak-anaknya. Meskipun beliau sangat sibuk dan jarang berada di rumah. Ayahnya
adalah orang yang paling memahami perasaan dan pikiran anak-anaknya. Inilah
kiranya prasyarat utama yang mesti dimiliki orang tua sebelum mendidik
anak-anaknya, yaitu membangun kedekatan jiwa tanpa batas dengan buah hatinya.
“Ayah kami tercinta. Beliau mengetahui
semuanya apa yang terkandung dalam hati kami. Sekali-sekali ayah menceritakan
apa-apa tentang kami kepada orang lain, tepat seperti apa yang ada dalam
pikiran kami yang tidak pernah kami katakan kepada siapapun. Kami
menganggapnya, tentulah ayah mencintai kami dan begitu pula sebaliknya.
Barangkali itulah yang disebut dengan hubungan jiwa.“
(Surat Kartini kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 6 November 1899)
Di suratnya yang lain yang ditujukan kepada R.M. Abendanon, Agustus 1900,
Kartini mengungkapkan perlakuan ayahnya yang lebih mesra lagi:
“Memang benar, ayahnya tidak dapat
memenuhi harapannya yang termesra dan termanis yaitu kebebasan. Beliau tidak
dapat memuaskan keinginannya yang meluap-luap terhadap pengetahuan. Tetapi ayah
tercintanya sangat mengasihi anak perempuannya sendiri yang bodoh. Beliau
memandangnya dengan mesra sekali. Sementara tangannya yang halus
membelai pipinya, kemudian membelai rambutnya dengan lemah lembut. Pun
tangannya yang kuat dapat memeluk leher dan bahunya dengan hangat dan nyaman.”
Keluarga bagaimanapun adalah sekolah yang pertama dan utama bagi pendidikan seorang anak. Pengetahuan dapat seorang anak peroleh dari mana saja. Tapi karakter, kemauan yang kuat dan kehalusan budi, dibentuk dalam sebuah tempat dimana hubungan antar pribadi menemukan jarak terdekatnya. Tempat itu bernama keluarga.
Membaca kembali surat-surat yang ditulis Kartini, seyogyanya menjadi
referensi bagi kita para orang tua dan para pendidik untuk mencetak
Kartini-Kartini baru yang senantiasa dibutuhkan kiprahnya sebagai pembebas dan
pelopor perubahan bagi kemajuan rakyat dan bangsanya. Selamat hari Kartini.

Comments
Post a Comment