Memilih Sekolah Mahal, Haruskah?
Semester 1 tahun ajaran 2015-2016 hampir
saja akan berakhir. Masih ada sekitar 7 bulan lagi menuju tahun ajaran baru
berikutnya. Namun iklan-iklan sekolah swasta sudah mulai bermunculan, terutama
sekolah favorit, dipercaya berkualitas dan tentu saja mahal. Sekolah-sekolah semacam ini bahkan mengadakan semacam seleksi
tersendiri buat calon-calon siswanya, dengan alasan menguji kesiapan siswa atau
alasan lain seperti jumlah kursi yang tidak mencukupi dikarenakan banyaknya
peminat jika dibandingkan jumlah kursi yang tersedia. Lalu seberapa mahal?
Biaya uang gedung bisa mencapai puluhan juta rupiah, sedangkan SPP perbulan
sampai jutaan rupiah. Sungguh kisaran biaya yang fantastis bukan? Lalu jaminan
yang ditawarkan jika sekolah di tempat tersebut juga sangat menggiurkan, misal
menghasilkan lulusan yang berkarakter baik atau berakhlak islami, mandiri,
kreatif, bahkan ada yang menulis mampu bersaing di kancah internasional.
Kata-kata yang terakhir ini sungguh pernah saya lihat di sebuah iklan SMP
swasta. Spontanitas saya waktu
membacanya adalah tersenyum geli. Program sekolah semacam apa yang mereka
lakukan dan untuk apa kita membebankan kepada anak-anak usia SMP untuk bersaing
di kancah internasional? kita saja yang orang dewasa dan bahkan telah lulus
kuliah dari perguruan tinggi ternama merasa kesulitan untuk go internasional,
apalagi anak yang baru lulus SMP.
Tentu saja kita adalah orang tua yang
sangat menyayangi anak-anak kita. Berapapun biayanya akan kita keluarkan demi
pendidikan yang terbaik dan demi masa depan anak-anak kita. Tapi benarkah
ketika kita memilih sekolah-sekolah mahal tersebut adalah jaminan bahwa
anak-anak akan mendapatkan pendidikan terbaik yang benar-benar dibutuhkannya?
Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang bersekolah di tempat-tempat murah
bahkan gratis sebagaimana halnya sekolah-sekolah negeri? Apakah itu berarti
kita adalah orang tua yang buruk karena tidak memberikan yang
terbaik? Marilah kita urai pertanyaan-pertanyaan ini satu demi satu.
![]() |
| Sumber Ilustrasi: google.co.id |
Pertama, benarkah karakter baik
seorang anak dipengaruhi paling kuat oleh sistem yang bernama sekolah?
Berkarakter baik, inilah biasanya yang
menjadi tujuan utama dan pertama bagi mayoritas orang tua dengan menyekolahkan
anaknya di sekolah tertentu. Meskipun banyak faktor yang bisa membentuk karakter
seseorang; pembawaan sejak lahir dan pengaruh lingkungan, baik lingkungan
keluarga maupun lingkungan sosial. Namun seluruh pakar pendidikan, dari barat
ke timur bersepakat bahwa lingkungan dengan andil terbesar dalam pembentukan
karakter adalah institusi keluarga. Dimana inti kekuatan dari peran keluarga adalah
‘kedekatan dan kemampun menyentuh secara personal’. Bagaimanapun setiap manusia
adalah makhluk yang unik, tidak ada dua manusia yang benar-benar sama meskipun
ia kembar identik. Dan keluarga adalah tempat dimana kedekatan antar personal
benar-benar terjalin. Bagi seorang anak, keluarganya adalah dunia kecilnya sejak
kali pertama ia dilahirkan, dunia yang menerima dan memahami ia apa adanya
dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Kedekatan personal inilah yang
sangat kuat mempengaruhi seseorang untuk mengikuti model ataupun tata nilai.
Bisa dibayangkan sebenarnya bagaimana potensi orangtua, ibu dan ayah, jika
optimal mengambil peran ini.
‘Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia
ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang
tuanyalah yg akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi… ‘(HR
Muslim)
‘Keluarga merupakan tempat yang paling
awal dan efektif untuk menjalankan fungsi Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan
Kesejahteraan. Apabila keluarga gagal untuk mengajarkan kejujuran, semangat,
keinginan untuk menjadi yang terbaik, dan kemampuan-kemampuan dasar, maka akan
sulit sekali bagi institusi-institusi lain untuk memperbaiki
kegagalan-kegagalannya.. (William Bennett).
Sekolah modern saat ini adalah sebuah
sistem pendidikan yang bersifat massal.
Padahal kemampuan mempengaruhi paling besar ada pada ‘kedekatan dan kemampuan
menyentuh secara personal’. Siapa yang paling dekat dan paling kuat mampu menyentuh
secara personal, maka ia akan memberikan pengaruh paling besar dalam membentuk
karakter seseorang. Sejujurnya ini sulit dilakukan di sekolah dengan sistem
pendidikan yang sifatnya massal
tersebut. Lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama seperti pesantren sekalipun
akan kesulitan jika tidak menggunakan cara pendekatan personal. Keterbatasan-keterbatasan
mengenai perbandingan jumlah guru/pendidik dengan jumlah siswa adalah hal lazim
di sistem sekolah modern. Satu guru dengan 20-40 siswa atau beberapa pengampu
dalam sebuah asrama yang berisi puluhan atau bahkan ratusan anak tentu saja akan
mengalami kesulitan dalam melakukan pendekatan personal secara intensif. Pembiasaan-pembiasaan ibadah atau kebaikan mungkin
bisa saja dilakukan melalui sejumlah aturan, hadiah dan hukuman. Namun seberapa
kuat itu terpatri dalam jiwa seorang anak, sehingga kelak semua kebiasaan baik
itu bukanlah menjadi sebuah keterpaksaan tapi berangkat dari sebuah kesadaran.
Padahal di sinilah seharusnya letak kesuksesan sebuah proses pendidikan.
Saya tidak mengatakan bahwa sekolah itu tidak
ada gunanya sama sekali. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa sesungguhnya ada
sebuah institusi berharga yang sering kita lupakan dalam pendidikan anak kita.
Ia adalah sekolah termahal di dunia. Sekolah itu bernama keluarga, guru-gurunya
bernama Ayah dan Ibu. Jika potensi besar membentuk karakter baik seorang anak
itu sesungguhnya ada di tangan kita, maka untuk apa lagi kita menyerahkan
tanggung jawab itu bulat-bulat ke sekolah. Atau jika fungsi keluarga sebagai
sekolah terbaik telah berjalan dengan benar. lalu untuk apa lagi mencari
sekolah yang mahal-mahal?
(bersambung)

setuju mbak!
ReplyDelete:)
MasyaAllah... moga Mulia bisa jadi "sekolah" termahal juga kayak mbak ya mbak...
Aamiin, kutunggu dulu undangannya mulia, sebelum buat sekolah termahal :) :D
Delete